Jangan jadikan Pos Pelkes etalase misi kalau jemaatnya masih menimbang harga beras. Pelayanan bukan tentang siapa yang paling rajin bicara, tapi siapa yang paling berani berhenti berpura-pura…
Boston, USA – gpibwatch.id – Dari kota tempat salju turun lebih cepat daripada keputusan rapat majelis, Pdt. Widyati Simangunsong-Sudarisman, Ketua Majelis Jemaat GPIB Gloria Bekasi, menatap gerejanya dari jauh — dengan hati yang hangat tapi kata-kata yang tajam seperti pisau pelayanan yang sudah lama haus dipakai.
“Pos Pelkes itu bukan Wisata Rohani. Bukan juga ajang foto pelayanan untuk laporan tahunan. Ini soal menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah — bukan tanda tangan di daftar hadir,” ujarnya dengan nada tenang tapi menggigit.
Menurutnya, pelayanan GPIB di Pos Pelkes sering tampak megah di laporan, tapi tumpul di kenyataan. Yang jauh itu bukan posnya, tapi nurani pelayannya, katanya dingin tapi jujur.
Ia menyentil keras pola pikir lama yang terlalu sibuk menata struktur dan dokumen tapi lupa menata semangat panggilan. Pendewasaan jemaat? Kadang yang dewasa itu kertasnya, bukan pelayannya. Tata Gereja makin tebal, tapi tata hati makin tipis.
Tentang teknologi, ia melontarkan sindiran yang menampar halus: Zoom, WA Group, YouTube — semua sudah ada. Tapi kalau isinya cuma rapat dan doa penutup tanpa aksi nyata, itu bukan pelayanan. Itu teater rohani daring.
Soal ekonomi warga Pos Pelkes, Widyati berbicara tanpa topeng teologis: “Sebelum bangga bilang ‘dari kita untuk publik’, coba dulu ‘dari kita untuk kita’. Jangan jadikan Pos Pelkes etalase misi kalau jemaatnya masih menimbang harga beras.”
Ia menutup dengan kalimat yang seharusnya membuat setiap pelayan gereja menatap cermin lebih lama. Pelayanan bukan tentang siapa yang paling rajin bicara, tapi siapa yang paling berani berhenti berpura-pura.
Dari Boston, ia menulis tanpa mikrofon, tapi pesannya menggema lebih keras dari lonceng gereja: Kalau pelayanan masih sebatas SK, agenda, dan laporan, jangan heran kalau Tuhan pun ikut join meeting tanpa menyalakan kamera.
Catatan Redaksi: Tulisan ini disadur dan dikembangkan dari wawancara Pdt. Widyati Simangunsong-Sudarisman bersama Frans S. Pong dari EmitenUpdate.com. ewako-mappakoe@gpibwatch.id /JP
