Di Burkina Faso, seorang lelaki gila menghentikan badai padang pasir. Di GPIB, mungkinkah ada seorang “gila” yang berani menghentikan badai politik sinode? Sejarah akan menjawab…
Jakarta, gpibwatch.id – Di Burkina Faso, Afrika, ada seorang lelaki bernama, Yacouba Sawadogo. Pada tahun 1970-an tanah kelahirannya berubah menjadi neraka dunia, gurun Sahara meluas, panas menjerang tulang, badai pasir menggulung desa, ternak mati dan manusia berbondong meninggalkan kampung halaman.
Namun Yacouba tidak ikut lari. Ia memilih melawan badai dengan cara sederhana—bahkan dianggap gila. Dengan cangkul, ia menggali lubang-lubang kecil berisi daun kering dan rayap. Teknik itu disebut Zai, merupakan kearifan lokal yang mampu menahan air, menjaga kelembaban tanah, dan perlahan menghidupkan kembali padang pasir.
Orang-orang menertawakan dia, “Mana mungkin pohon tumbuh di padang pasir?” Tetapi tahun demi tahun benih yang ditanamnya tumbuh menjadi pohon. Pohon memanggil burung, burung membawa biji, biji melahirkan hutan. Orang yang dulu disebut gila akhirnya dihormati sebagai penyelamat.
Kini kita bergeser ke Indonesia, tahun 2025. Ada pesta besar di GPIB – Pesta Suksesi Majelis Sinode, yang disebut juga Pesta Iman. Tetapi mari jujur sebentar, bukankah pesta iman sering kali lebih mirip pesta politik?
Nama-nama calon beredar, lobi berlangsung di lorong-lorong, kalkulasi kursi mendahului doa. Pertanyaannya sederhana tapi tajam: adakah “orang gila” di pesta suksesi MS GPIB? Adakah mereka yang berani menggali zai di padang gurun politik gereja?
Zai itu, hari ini bisa berupa ruang kecil untuk kejujuran di tengah arus kompromi, bisa berupa ruang bagi perempuan untuk memimpin meski patriarki masih berbisik keras, bisa berupa ruang bagi jemaat sederhana yang sering diremehkan padahal justru menopang kehidupan gereja. Orang-orang seperti ini biasanya ditertawakan, disebut naif, idealis, bahkan “tidak tahu aturan main”. Tetapi bukankah Yacouba dulu juga dicap gila?
Pesta iman akan jadi sekadar pesta suksesi jika tak ada yang berani menanam zai. Yang kita butuhkan bukan sekadar pewaris jabatan, tetapi penanam benih integritas. Bukan sekadar pengganti kursi, melainkan penyembuh badai.
Di Burkina Faso seorang lelaki gila menghentikan badai padang pasir. Di GPIB, mungkinkah ada seorang “gila” yang berani menghentikan badai politik sinode? Sejarah akan menjawab. Zai kecil, perubahan besar. Harmoni itu indah, bahkan di tengah padang gurun.
Tulisan ini merupakan saduran dari kisah nyata Yacouba Sawadogo di Burkina Faso tentang metode zai, yang dipadukan dengan refleksi satir atas konteks pemilihan MS GPIB. ewako-mappakoe@gpibwatch.id /JP
