Opini
Home / Opini / Nancy dan Panggung Pembinaan: Resilien, tapi Jangan Lembek!

Nancy dan Panggung Pembinaan: Resilien, tapi Jangan Lembek!

Resilien tak boleh berarti lembek, sebab GPIB tak butuh pelayan yang bisa ditekuk, melainkan pemimpin yang berani menegakkan kembali yang bengkok…..

Bekasi, gpibwatch.id – Dalam irama jazz-blues, sore hari terasa nikmat. Segelas kopi es menyejukkan, menyegarkan, dan seolah membuat dunia berada dalam genggaman tangan kecil yang penuh ide — ide yang bisa meledak kapan saja.

Polling Aspirasi GPIB WATCH telah ditutup untuk posisi Bidang IV MS GPIB (Ketua III), dengan Pdt. Stephen Sihombing keluar sebagai the champion.

Namun jangan buru-buru tepuk tangan. Sebab semangat dan fighting spirit Pdt. Nancy Rehatta belum berhenti. Pertandingan baru dimulai, dan panggung PPSDI-PPK masih membuka babak berikutnya. Organisatoris belum menutup tirai — dan Nancy tahu, finale belum ditentukan oleh angka, tapi oleh arah angin pelayanan.

Ketika banyak pelayan sibuk berebut kursi empuk, Pdt. Nancy justru datang membawa kursi lipat sendiri. Visinya menggoda—membentuk pelayan Tuhan yang kuat, berkarakter Kristus, dan lentur menghadapi zaman. Tapi di GPIB, yang lentur sering justru paling mudah dibengkokkan oleh sistem.

Nancy bicara soal pembinaan holistik, platform digital, dan adaptasi multigenerasi. Kedengarannya modern. Tapi mari jujur, berapa banyak jemaat yang ‘dibina’ hanya lewat grup WA yang mati suri?

Antara Politik dan Missio Dei
Berapa banyak pelkat yang dievaluasi, tapi hasilnya sudah diatur sebelum rapat dimulai? Ia menyebut Resilien — daya lentur yang menolak hancur. Dan mungkin di situlah bedanya, Nancy mau membina, bukan membinasakan. Mau berubah, bukan sekadar bertahan di kubikel pelayanan yang dingin dan nyaman.

Kalau benar ia tampil di arena Ketua III MS GPIB, maka satu hal jelas, Resilien tak boleh berarti lembek, sebab GPIB tak butuh pelayan yang bisa ditekuk,melainkan pemimpin yang berani menegakkan kembali yang sudah terlalu lama dibiarkan bengkok.

Dan di ujung senja, ketika irama jazz-blues mulai pelan, kita tahu satu hal sederhana: Kopi es tak pernah bengkok. Kopi es larut dalam lidah yang penuh rasa. Kopi es akan punya arti kalau kita berintegritas — tanpa malu, dan tidak menolak dialog. ewako-mappakoe@gpibwatch.id /JP

Related Posts

Berita Populer

01

Pdt. Nitis Harsono: “Tenang, Iblis Bermain Senang”

02

Tuli Mendadak, Tradisi Sejak Dini di Jabatan Fungsionaris

03

Ketok Magic Pendeta, Menggunakan Ayat Kolusi dan Ayat Nepotisme

04

Polling Aspirasi, Membentuk Demokratisasi di GPIB

05

Sang Raja, Sang Ratu di Jemaat

Ragam Berita





Sang Raja, Sang Ratu di Jemaat


Exit mobile version