Opini
Home / Opini / Mereka Duduk, Tuhan Berdiri — Mereka Gila Hormat

Mereka Duduk, Tuhan Berdiri — Mereka Gila Hormat

Semakin tinggi kursinya, semakin jauh dari lantai tempat jemaat sederhana berdiri. Kalau kursi itu yang kalian cari, silakan rebut. Aku tetap berdiri — menunggu siapa yang sungguh mau melayani…

Makassar, gpibwatch.id – Kursi yang ku duduki saat ngopi, nyaman saja. Tak ada yang berebut, tak ada yang saling dorong. Semua duduk santai, menikmati aroma kopi asli — bukan tiruan, bukan racikan politik.

Di warung kopi, kursi mana pun sama, yang membedakan hanyalah niat hati saat duduk. Selama tak ada maksud tersembunyi, tak ada orientasi gila atau menggilakan, kursi kopi tetap memberi nikmat yang jujur. Mungkin di situlah bedanya dengan kursi di Majelis Sinode GPIB.

Karena di sana, kursi bukan lagi sekadar tempat duduk. Ia telah berubah menjadi panggung perebutan, simbol kuasa, dan arena kebanggaan. Yang dulu disebut pelayanan, kini bergeser jadi jabatan. Yang dulu diucapkan sebagai panggilan hati, kini terdengar seperti strategi politik.

Lobi disebut konsultasi rohani. Kampanye disebut pembekalan pelayanan. Transaksi disebut dukungan fraternal. Dan doa penutup dibungkus kalimat manis, Soli Deo Gloria. Ironi yang terlalu manis untuk ditolak, terlalu pahit untuk ditelan.

Kursi itu kini seolah punya daya sihir, siapa yang duduk di atasnya merasa lebih tinggi, lebih suci, lebih pantas menentukan arah gereja. Padahal, semakin tinggi kursinya, semakin jauh dari lantai tempat jemaat sederhana berdiri.

Antara Politik dan Missio Dei

Padahal, kursi pelayanan bukan kursi empuk. Ia keras, berat, dan menuntut kejujuran. Tapi di tangan yang salah, kursi itu disulap jadi singgasana kecil — lengkap dengan hormat, fasilitas, dan gengsi yang dibungkus liturgi.

Gereja pun berubah jadi panggung satire. Semua bicara “pelayanan,” tapi yang diincar tetap kursi. Dan mungkin, Tuhan kini duduk di pojok ruangan, tersenyum getir dan berbisik, Kalau kursi itu yang kalian cari, silakan rebut. Aku tetap berdiri — menunggu siapa yang sungguh mau melayani.

Dan di antara hiruk-pikuk itu, gelas kopi tetap ku genggam sekuat tenaga. Kuharap gelas kecilku — yang terbuat dari berlian — tak jatuh dan pecah di tangan mereka yang gila hormat dan gila-gilaan.

Karena bagiku, lebih mulia merebut secangkir ketulusan dan kejujuran, daripada merebut seribu kursi kemunafikan dan seribu dusta di bibir. ewako-mappakoe@gpibwatch.id – JP

PST Jakarta, Peserta via Zoom Keluhkan Sulitnya Akses Masuk

Related Posts

Berita Populer

01

Pdt. Nitis Harsono: “Tenang, Iblis Bermain Senang”

02

Tuli Mendadak, Tradisi Sejak Dini di Jabatan Fungsionaris

03

Ketok Magic Pendeta, Menggunakan Ayat Kolusi dan Ayat Nepotisme

04

Polling Aspirasi, Membentuk Demokratisasi di GPIB

05

Sang Raja, Sang Ratu di Jemaat

Ragam Berita





Sang Raja, Sang Ratu di Jemaat


Exit mobile version