Refleksi Perjuangan dan Kemandirian
Jakarta, gpibwatch.id —Tidak ada hal berharga dalam hidup ini yang datang tanpa perjuangan. Seringkali kita menolong orang lain karena kasihan, namun niat baik itu justru membuat mereka tidak mandiri. Potensi mereka pun tidak berkembang maksimal.
Realita ini pun tercermin dalam kehidupan sehari-hari: berilah mereka kesempatan untuk berjuang dengan kemampuan sendiri. Dalam proses itulah kekuatan sejati muncul. Dan ketika cukup kuat, kita pun bisa terbang.
Namun kenyataannya, sulit menghindari “mental pengemis” — mereka yang nyaman menerima bantuan, enggan berusaha sendiri. Dalam konteks pelayanan, ada yang sebenarnya mampu namun tetap mengharapkan diakonia. Ini menjadi dilema bagi pelayan yang memberi dengan kasih, namun juga diselimuti rasa kasihan.
Semuanya kembali pada integritas manusia: mau bersikap tulus dan jujur pada diri sendiri, berusaha menghidupi diri dan keluarga, tanpa bergantung pada belas kasihan. Jika tidak, orang lain pun merasa resah, karena kenyataan dan harapan menjadi ironi dalam pelayanan.
Seperti kupu-kupu yang harus berjuang keluar dari kepompong agar sayapnya kuat mengembang, begitu pula kita. Kita diberi nalar dan pikiran untuk berusaha, mengembangkan potensi diri, tanpa tergantung pada belas kasihan yang justru menumbuhkan mental rapuh.
Catatan: Dua paragraf awal diadaptasi dari pesan digital, sisanya merupakan refleksi pribadi penulis. ewako-mappakoe@gpibwatch.id /JP
