Mereka berdua mencerminkan wajah GPIB masa kini, berpikir strategis, bergerak digital, namun tetap berakar pada panggilan iman….
Jakarta, gpibwatch.id – Bidang Ketua V dalam struktur Majelis Sinode GPIB sering disebut sebagai bidang paling seksi. Seksi bukan karena gemerlapnya jabatan, melainkan karena hampir semua bidang bergantung padanya , dari informasi, komunikasi, hingga riset dan pengembangan.Semua butuh Ketua V. Semua ingin dekat dengan Inforkom-Litbang.
Tak heran bila kursi ini selalu hangat diperebutkan, menjadi arena di mana strategi pelayanan dan politik kerohanian berpadu dalam satu tarikan napas. Dan kini, dua nama tengah menggeliat dan bergaung di berbagai ruang percakapan presbiter, Penatua Maxi Hayer dan Penatua Robby Wekes. Dua figur dengan gaya berbeda, namun sama-sama punya magnet pelayanan yang kuat.
Sebagaimana diketahui, pesta iman bernama Persidangan Sinode Raya (PSR) akan digelar di Makassar, 27–31 Oktober 2025, dengan Mupel Sulselbara sebagai tuan rumah. Di sana, seluruh posisi fungsionaris , dari Ketua I hingga Ketua V, Sekum hingga Bendahara, akan dipilih. Aroma persaingan mulai terasa, disertai doa, harapan, dan tentu saja, narasi-narasi yang berhembus dari setiap sudut pelayanan.
PSR kali ini hampir pasti “panas”. Bukan semata karena suhu Makassar di akhir Oktober, tetapi karena bola-bola liar akan bertebaran di udara. Sulit ditebak siapa menjaring siapa, dan ke mana arah dukungan akan bermuara.
Namun di tengah dinamika itu, dua nama ini mencuri perhatian. Maxi Hayer dan Robby Wekes sama-sama berlatar belakang hukum, bekal yang penting bagi GPIB yang dihadapkan pada berbagai tantangan hukum dan pengelolaan aset, baik internal maupun eksternal. Dari persoalan lahan hingga peraturan organisasi, Ketua V memang harus paham “aturan main” pelayanan yang seringkali lebih rumit dari sekadar peraturan negara.
Penatua Maxi Hayer, dengan gaya komunikatif dan terbuka, dikenal luwes berinteraksi lintas kalangan. Sebagai PHMJ GPIB “Harapan Baru” Bekasi, ia menampilkan pendekatan pelayanan yang hangat, dialogis, dan tidak kaku.
Sedangkan Penatua Robby Wekes, sang incumbent, membawa modal pengalaman dan konsistensi kerja. Rekam jejaknya dalam menata sistem informasi dan komunikasi gereja menjadi bukti nyata bahwa Inforkom bukan sekadar ruang publikasi, melainkan jembatan antar pelayanan.
Keduanya punya keunggulan yang khas. Satu menonjol dalam relasi dan kedekatan sosial, satu lagi dalam pengalaman struktural dan manajerial. Mereka berdua mencerminkan wajah GPIB masa kini, berpikir strategis, bergerak digital, namun tetap berakar pada panggilan iman.
Dan pada akhirnya, siapa pun yang kelak terpilih, jemaat hanya berharap satu hal sederhana, bahwa Inforkom dan Litbang menjadi wadah transformasi nyata, bukan sekadar alat promosi struktural. Bahwa suara pelayanan tak hanya terdengar dari mimbar, tetapi juga hidup di ruang komunikasi yang jujur, terbuka, dan mencerahkan.
PSR Makassar akan menjadi panggung pembuktian, bukan sekadar tentang siapa yang menang, tetapi tentang bagaimana gereja belajar mendengar, memilih, dan berubah. JP/fsp
