Opini
Home / Opini / Memaksakan Kehendak di Arena Suksesi

Memaksakan Kehendak di Arena Suksesi

Memaksakan kehendak di Pesta Suksesi Persidangan Sinode Raya merupakan sifat tidak demokratis, tidak pantas dan tidak menghargai pendapat orang yang ingin berkreasi…

Jakarta, gpibwatch.id – Menurut Sigmund Freud → perilaku memaksakan kehendak bisa muncul dari ego yang terlalu dominan, tidak mampu mengontrol dorongan diri, sehingga mengabaikan realitas orang lain.

Memaksakan kehendak kepada pemilih pasti akan terjadi di arena perselancaran, di arena pertunjukkan akbar, di arena suksesi yang genit yang penuh dengan   intrik dan trik, baik yang silent maupun secara kasatmata.    

Berbagai cara akan dilakukan untuk menekan agar tercapai apa yang dikehendaki, dengan maksud dan tujuan untuk memuaskan keinginan dari pada pimpinan yang lagi berkuasa dan punya kepentingan.

Memaksakan kehendak tentunya dilatarbelakangi dengan berbagai faktor, khususnya para junior yang belum lama memimpin jemaat, ini yang mudah dipengaruhi karena merasa utang budi ke mentor atau mungkin faktor kedekatan lainnya.

Menutup Buku Lama, Membuka Lembaran Baru dalam Terang Kasih
Tak ketinggalan para  emeritus ikut juga melakukan aksinya, ikut bernyanyi dalam irama syahdu yang menggigit walaupun tak langsung di arena, semuanya dalam rangka meloloskan para kandidatnya di pesta iman.

Memaksakan kehendak di Pesta Suksesi Persidangan Sinode Raya merupakan sifat tidak demokratis, tidak pantas dan tidak menghargai pendapat orang yang ingin berkreasi dan ingin menentukan pilihannya.

Memaksakan kehendak adalah ekspresi egoisme dan relasi kuasa yang tidak sehat. Ia lahir dari rasa tidak aman, lalu diwujudkan dengan dominasi dan sikap ini merusak kepercayaan, kebersamaan, dan kasih.

Dalam kehidupan bergereja atau bermasyarakat, saat seseorang memaksakan kehendak tanpa menghargai perbedaan, benih-benih membinasakan mulai tumbuh, bisa berupa pembunuhan karakter, menghalangi pelayanan orang lain, dan rusaknya keharmonisan dalam kebersamaan.

Memang tak ada hukumannya bagi yang tak mau ikuti, namun akan menjadi catatan, jika calonnya nanti ada di posisi top eleven, kekuasaan dan kebijakan ada di tangan para pengendali,  dan yang tak mengikuti irama dan tak sejalan, akan mendapatkan tempat yang kurang makmur, kurang sejahtera. ewako-mappakoe@gpibwatch.id (JP)

PST Jakarta Harus Tegas, Kasus Keuangan FMS XXI Harus Ada Sanksi

Related Posts

Berita Populer

01

Pdt. Nitis Harsono: “Tenang, Iblis Bermain Senang”

02

Tuli Mendadak, Tradisi Sejak Dini di Jabatan Fungsionaris

03

Ketok Magic Pendeta, Menggunakan Ayat Kolusi dan Ayat Nepotisme

04

Polling Aspirasi, Membentuk Demokratisasi di GPIB

05

Sang Raja, Sang Ratu di Jemaat

Ragam Berita





Sang Raja, Sang Ratu di Jemaat


Exit mobile version