Hindarilah mata placebo, mata perselingkuhan, mata ambisi, mata manipulatif, mata kelompok transaksional, mata chaos, mata kolusi dan mata nepotisme.
Jakarta, gpibwatch.id – Mata boleh terganggu karena katarak, rabun, atau kerusakan retina. Namun, semangat untuk membuka tabir kebenaran dan menjalankan sesuatu yang berguna bagi banyak orang tidak boleh ikut kabur.
Mata tetap bisa menjadi jendela untuk menyulam dan mempererat ikatan persaudaraan yang harus dibina, diberi vitamin, dan dipupuk agar tumbuh, berkembang, dan berbuah.
Mata mengirimkan inspirasi ke otak, lalu diolah menjadi logika dan nalar untuk merumuskan narasi. Ada narasi yang sedang hangat, ada yang butuh pengembangan, bahkan ada yang mandek.
Dalam pelayanan, kesaksian, dan persekutuan, mata menjadi instrumen tak ternilai. Ia harus tetap tajam menatap ke depan, membaca dinamika dan fluktuasi pelayanan di era perubahan yang tak terelakkan.
Di tengah arus intergenerasional dan derasnya teknologi informasi, mata tidak bisa ditawar. Dialah pengawas segala kemajuan dan perkembangan, terutama ketika semua bergeser ke ranah digital.
Maka, dalam konteks pemilihan Fungsionaris Majelis Sinode GPIB–XXII, setiap mata harus dijaga. Jangan sampai terkena bintitan, Hordeolum dan mata merah, Conjunctivitis, atau malah menjadi mata semu.
Hindarilah mata placebo, mata perselingkuhan, mata ambisi, mata manipulatif, mata kelompok transaksional, mata chaos, mata kolusi dan mata nepotisme.
Dan yang paling penting, saat perhitungan suara pemilihan sebelas FMS GPIB 2025–2030, mata harus benar-benar jeli, menatap dengan tajam setiap hasil. Sebab dari sanalah ditentukan masa depan pelayanan GPIB, apapun model pemilihannya. ewako-mappakoe@gpibwatch.id / JP
