Opini
Home / Opini / Kursi Lipat di Majelis Sinode GPIB: Pagi Rapat Kantor,Sore Rapat Sinode

Kursi Lipat di Majelis Sinode GPIB: Pagi Rapat Kantor,Sore Rapat Sinode

Kalau Pavarotti masih hidup dan ikut sinode, mungkin ia akan berkata: “Saudara-saudara, jangan duduk di dua kursi. Pilih satu saja, biar suara hidupmu benar-benar nyaring — bukan fals.”

Jakarta, gpibwatch.id – Kalau kita punya hati mendua, jangan harap cinta sejati akan ada, akan nampak. Begitupun jika hati kita duduk di dua kursi—hati terasa sesak dan penuh, lama-kelamaan bisa terjangkit sirosis hati.

Di dunia nyata, orang yang punya dua kursi biasanya bingung duduknya. Tapi di gereja, terutama menjelang pemilihan Majelis Sinode GPIB, muncul fenomena baru, “Kursi Lipat Pelayanan.”

Pagi hari duduk di kursi kantor—rapat, tanda tangan, gaji lancar. Sore hari buka kursi lipat—rapat sinode, tanda tangan juga, wibawa bertambah. Lalu malamnya, mungkin masih sempat mengatur strategi “siapa duduk di kursi mana.”

Masalahnya, kursi lipat itu gampang ambruk kalau dipakai terlalu lama. Dan di tengah euforia pesta pemilihan, ada juga penatua yang mulai tergoda membawa kursi lipatnya sendiri ke arena sinode—takut kehabisan tempat.

Antara Politik dan Missio Dei

Maka tak heran, ada yang pelayanannya terasa lipat ganda:

  • Waktu terbagi: rapat kantor penting, rapat sinode ditunda.
  • Energi terbagi: capek di kantor, di gereja tinggal senyum formalitas.
  • Hati terbagi: antara jabatan dan pelayanan — akhirnya yang menang tetap urusan karier.

Padahal, kursi sinode itu bukan trofi, tapi tanggung jawab kudus. Kalau kursi lipat dibawa dari rumah, itu tanda hati belum siap untuk melayani—baru siap untuk mengatur posisi.

Pertanyaannya sederhana: Apakah kursi pelayanan itu sungguh kursi yang kudus, atau hanya kursi tambahan supaya terlihat lebih terhormat? Kalau Pavarotti masih hidup dan ikut sinode, mungkin ia akan berkata: “Saudara-saudara, jangan duduk di dua kursi. Apalagi kursi lipat. Pilih satu saja, biar suara hidupmu benar-benar nyaring — bukan fals.”

Sebab suara yang nyaring bukan lahir dari perebutan kursi, tetapi dari hati yang jujur, yang tak lipat ganda — karena kemarukan dan kerakusan sudah tiada, dan dosa pun sirna. ewako-mappakoe@gpibwatch.id /JP

Related Posts

Berita Populer

01

Pdt. Nitis Harsono: “Tenang, Iblis Bermain Senang”

02

Tuli Mendadak, Tradisi Sejak Dini di Jabatan Fungsionaris

03

Ketok Magic Pendeta, Menggunakan Ayat Kolusi dan Ayat Nepotisme

04

Polling Aspirasi, Membentuk Demokratisasi di GPIB

05

Sang Raja, Sang Ratu di Jemaat

Ragam Berita





Sang Raja, Sang Ratu di Jemaat


Exit mobile version