Krisis ini segera gugur dan digantikan oleh tatanan baru, setelah pesta suksesi, pesta iman, di mana mereka yang terpilih kelak mau mendengar jeritan, bahkan air mata jemaat yang selama ini diabaikan…
Jakarta, gpibwatch.id – Ketika sebuah lembaga mengalami krisis kepercayaan, dampaknya pasti besar. Efeknya berselancar ke mana-mana, menari-nari, tertawa kecut, sekaligus gelisah, terutama ketika pemasukan dari jemaat mulai menurun drastis.
Kas Majelis Sinode jangan berharap surplus, apalagi bertambah, bila kepercayaan jemaat terus menipis. Kepercayaan kini seolah tersengal-sengal, menampakkan napas pendek di ujung perjalanan lembaga yang seharusnya menjadi rumah rohani, namun kini sesak oleh persoalan “budget”.
Mengapa demikian? Perjalanan panjang memimpin tanpa check and balance, tanpa kontrol dan akuntabilitas, telah meninabobokan mereka yang duduk di kursi tinggi.Terlena oleh kedudukan dan situasi yang “tidak baik-baik saja”, namun tetap saja merasa baik-baik saja.
Anggaran digunakan semaunya, dengan ‘Rombongan Sirkus’ yang selalu hadir di setiap event besar maupun kecil, seolah itu bagian dari pelayanan kudus.
Krisis kepercayaan ini makin dalam karena jemaat tidak lagi buta. Mereka melihat, memantau, dan menilai. Mereka melihat gaya hidup para pembesar Majelis Sinode yang tampil bak selebriti di media sosial, dengan perjalanan lintas pulau yang seolah tanpa batas, tentu semua itu memakai dana dari sumber yang sama.
Belum lagi unit-unit misioner yang ikut gembira menikmati kue anggaran dari satu lubang yang sama. Lengkaplah sudah riwayat penghabisan dana tanpa rasa bersalah.
Krisis kepercayaan ini tidak akan berakhir selama para fungsionaris Majelis Sinode masih menganut paham anti-demokrasi, masih menikmati “tuli mendadak” yang sudah kronis menahun.
Namun, semoga krisis ini segera gugur dan digantikan oleh tatanan baru — setelah pesta suksesi, pesta iman — di mana mereka yang terpilih kelak mau mendengar jeritan, bahkan air mata jemaat yang selama ini diabaikan. ewako-mappakoe@gpibwatch.id / JP
