Mari sambut kedatangan MS GPIB–XXII — mereka akan membawa angin perubahan temporer, totalitas transformasi, atau justru tetap memelihara status quo: alergi terhadap kritik, sindiran, dan menutup rapat dialog terbuka…
Jakarta, gpibwatch.id – Menghitung hari — detik demi detik. Jam dinding berdetak mengikuti irama lirih, suara semakin syahdu dan lembut. Intonasi sudah bisa diatur, empati dan simpati terpaksa dan terdesak. Emosi jiwa tertekan, tertunduk lesu melihat sekeliling. Badan terasa myalgia dan low back pain yang tak berujung.
Apakah ini tanda bahwa aku harus pergi dari tempat nikmat nan haru — tempat dengan fasilitas terjamin selama melayani di lingkup sinodal?
Apakah post power syndrome akan menyertaiku kelak? Aku belum bisa pastikan, karena pertandingan belum selesai. Masih ada beberapa hari lagi. Aku harus berkontemplasi — ke mana daku kelak? Apakah negosiasiku berhasil? Wait and see.
Masih banyak pekerjaan rumah MS GPIB–XXI yang belum diselesaikan secara masif, baik dalam lingkup internal maupun eksternal. Beban berat kini ada di pundak MS GPIB–XXII: menyelesaikan warisan persoalan yang tidak mereka ciptakan, namun harus mereka tanggung.
MS GPIB–XXII harus berhati besar dan berjiwa besar. Pundak mereka harus kuat menahan beban berat — puluhan kilo — yang menuntut logika tajam dan daya nalar excellent.
Mari sambut kedatangan MS GPIB–XXII — entah mereka akan membawa angin perubahan temporer, totalitas transformasi, atau justru tetap memelihara status quo: alergi terhadap kritik, sindiran, dan menutup rapat dialog terbuka serta demokrasi pelayanan.
Americano Black tetap Americano Black. Satir halus, tajam bahkan ekstrem — tetap ada, melingkari, menyinari, dan membias dalam kerja cepat dan kerja cerdas. ewako-mappakoe@gpibwartch.id /JP
