Keputusan boleh selesai dalam sidang, tetapi kepercayaan lahir dari konsistensi….
Jakarta, gpibwatch.id — Nilai hitam–putih dalam konteks pelayanan suatu lembaga sinodal pasti ada. Kegelapan dapat terus berjalan apabila kita tidak membuka diri—tidak transparan dan tidak inklusif—serta tidak memiliki telinga untuk mendengar dan mendiagnosis persoalan dengan cara yang elegan.
Ngobrol santai bersama Ketua V MS GPIB XXII, Pnt. Maxi Hayer, pada 13 April 2026 di “Resto Pelangi” Gondangdia, membawa angin segar—angin sepoi-sepoi yang pasti—dan mengarah pada perubahan sejati yang berjalan di atas rel lurus serta mengembalikan marwah. Beliau menyikapi kurangnya kepercayaan terhadap Majelis Sinode dan pentingnya menjalankan apa yang telah ditetapkan dalam Persidangan Sinode Tahunan maupun Persidangan Sinode Raya.
Agar Majelis Sinode kali ini benar-benar melaksanakan rekomendasi dan aturan tata kelola yang sudah tertuang dalam Tata Gereja, tidak melenceng dari ketentuan tersebut, sehingga akuntabilitas dan efisiensi anggaran dapat terwujud.
Dari kacamata saya, Bung John Paulus, yang ditemani Bung Domi dan Bung Frans, saya melihat Ketua V, Bung Maxi, ingin agar sinode lebih maju ke depan: memberitakan kemajuan dalam pelayanan, saling merangkul dalam perbedaan, berjalan dalam kesinergisan—sun hodos—serta mampu membedakan antara urusan personal dan urusan lembaga.
Dengan latar belakang hukum dan sebagai seorang pengacara, beliau berpengalaman mengelola dialog, baik dalam kelembagaan sinodal maupun dunia sekuler. Demokrasi dalam pelayanan, transparansi, dan inklusivitas adalah hadiah mahal—gold prize—apabila mampu diwujudkan dalam konteks keterbukaan yang selama ini masih terasa kaku dan penuh resistensi internal. Bravo Inforkom–Litbang. Laus Deo. / JP ✍

