Ketika ilmu dan harta diperoleh dengan cara yang tak benar, keduanya pun digunakan dengan cara yang keliru….
Jakarta, gpibwatch.id — Di dunia kini, tak sedikit orang yang membusungkan dada oleh harta dan ilmu yang dimilikinya. Mereka memandang sesama dengan sudut mata — seolah berkata: aku lebih tinggi, engkau tak berarti, dan bukan tandinganku.
Ilmu dan harta yang seharusnya menerangi justru membutakan mata hati. Dalam pikirannya, ia tak perlu bergantung pada siapa pun, sebab merasa sanggup memikul semua beban dan menyelesaikan semua persoalan seorang diri.
Ketika ilmu dan harta diperoleh dengan cara yang tak benar, keduanya pun digunakan dengan cara yang keliru. Apalagi bila disertai jabatan — segala cara ditempuh demi kepuasan duniawi, melanggar aturan, merampas yang bukan haknya.
Kesombongan yang demikian menjauh dari nurani yang tulus. Prinsip take and give berubah menjadi pamrih semata. Menolong hanya jika menguntungkan, enggan membantu mereka yang dianggap tak memberi faedah. Ada ketakutan yang tersembunyi: takut kehilangan harta, pengaruh, atau kenyamanan.
Kepintaran dan kesombongan berjalan beriringan pada mereka yang tak pernah insaf, tak pernah berani berefleksi. Padahal semua yang dimiliki berasal dari Sang Pencipta, dan semuanya bersifat semu serta tak kekal — jika tidak diberdayakan dan digunakan bagi kemaslahatan sesama. ewako-mappakoe@gpibwatch.id / JP
