Tetaplah pada pilihan yang hakiki. Jangan merampok hak orang lain, jangan mengkhianati pertemanan, jangan mengingkari kesepakatan….
Bekasi Regency, gpibwatch.id — “Hendaklah ia memintanya dalam iman dan jangan bimbang sama sekali, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut yang diombang-ambingkan kian kemari oleh angin. Orang yang demikian janganlah mengira bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan.” (Yakobus 1:7–8)
Mari sejenak kita menatap kembali pesta suksesi di aras tertinggi pelayanan. Kala para kontestan digelayuti galau dan ragu akan pilihannya—ada calon yang begitu kuat, begitu memikat—hingga emosi jiwa pun goyah, bimbang,“Apakah aku akan berhasil dengan pilihanku ini?”
Ketika pendirian tidak lagi teguh, pikiran dan logika pun terombang-ambing, takut kalah, takut kehilangan secangkir kopi terhormat, kopi puja-puji. Nalar pun membisik, angkat kaki, pindahlah ke lain hati.
Cinta sejati yang dulu dijaga, kini mulai retak. Pikiran bagai bahtera yang dihantam badai, kehilangan arah, menabrak batu hati, berlabuh ke cinta lain—padahal cinta itu sudah dimiliki orang lain, orang yang dulu seia sekata, sepakat untuk duduk di bangku yang sama, bangku yang jelas mewah.
Mendua hatiku…kesempatanku kuingkari, janji kuabaikan, diriku sendiri kudustai. Barangkali aku masih bisa mencapai tempat pelarian itu,menduduki kursi yang kuincar, namun—dengan cara berkhianat.
Tapi Yakobus sudah mengingatkan: jangan bimbang, jangan mendua hati. Tetaplah pada pilihan yang hakiki. Jangan merampok hak orang lain, jangan mengkhianati pertemanan, jangan mengingkari kesepakatan.
Kopi tidak pernah ingkar janji. Kopi tidak lekang oleh waktu. Kopi tetap setia—aromanya konsisten, nikmatnya tak berubah. Kopi, kata dan perbuatannya tetap sama. ewako-mappakoe@gpibwatch.id /JP
