Sebelum memilih, tanyakan pada hati. Apakah kita sedang mencari pemimpin berkarakter… atau sekadar pemanis rohani yang enak dilihat tapi cepat basi?
Makassar, gpibwatch.id – Kopi yang berkarakter dan berkualitas layak dinikmati dengan penuh sukacita. Rasanya kuat, jujur, dan tidak dibuat-buat. Ia mungkin pahit di awal, tapi meninggalkan kesan mendalam di akhir. Dan karena itu, kopi seperti itu layak diberi tempat — bahkan jadi nomor satu.
Pemimpin pun mestinya demikian. GPIB tak butuh yang manis di awal tapi hambar di perjalanan. Tak butuh yang wangi pencitraan tapi kosong integritas. Yang dibutuhkan adalah pemimpin yang seperti kopi: kuat, jujur, berkarakter, dan memberi energi rohani, bukan sekadar aroma pencitraan.
Sayangnya, dalam hiruk pikuk pemilihan Majelis Sinode, banyak yang lebih sibuk memoles rasa daripada menjaga isi. Gereja seakan tengah mencari “varian rasa baru” yang populer, bukan keaslian karakter yang diuji waktu.
Kini panggung pelayanan makin mirip ruang promosi. Janji diseduh, dukungan diaduk, dan aroma kepentingan tercium di mana-mana. Padahal yang sejati bukan yang ramai di mulut orang, tapi yang murni di hadapan Tuhan.
Pemimpin sejati tak butuh gula tambahan, kejujuran sudah cukup. Ia tak butuh kemasan indah, karena yang menentukan nilainya adalah isi.
Maka, sebelum memilih, tanyakan pada hati. Apakah kita sedang mencari pemimpin berkarakter… atau sekadar pemanis rohani yang enak dilihat tapi cepat basi?
Dan seperti halnya kopi, kepemimpinan sejati takkan basi — asal didapatkan melalui proses yang benar, jujur, dan kredibel. Disadur dari akun Facebook Johan Tumanduk . ewako-mappakoe@gpibwatch.id /✍JP
