Kursi Majelis Sinode bukan untuk ditumpuk gengsi, melainkan untuk dipikul demi yang kecil…
Jakarta, gpibwatch.id – Di sebuah restoran mewah, seorang milyarder menyingkirkan steaknya dan memberi ruang bagi seorang anak kecil yang lapar. Dari meja itu lahir sebuah masa depan baru, seorang anak yang tadinya tidak punya siapa-siapa, mendapat kesempatan hidup, belajar, bahkan menjadi saluran berkat bagi ribuan anak lain.
Kisah ini sederhana, tapi sangat menohok, kursi yang kosong bisa menjadi ruang penyelamatan, bila kita rela membukakannya.
Lalu, mari kita tengok ke dalam ruang sidang pemilihan Majelis Sinode GPIB. Kursi-kursi di sana sering kali justru diperebutkan, bukan dibukakan. Banyak energi terkuras untuk memastikan siapa yang duduk, bukan untuk siapa kursi itu dipersembahkan. Padahal, kursi itu bukanlah trofi atau simbol gengsi, melainkan amanat pelayanan.
GPIB sering menyebut dirinya sebagai Gereja Ramah Anak. Pertanyaannya sejauh mana “ramah” itu sungguh diwujudkan? Apakah anak-anak hanya dijadikan slogan di spanduk, atau sungguh-sungguh menjadi alasan kita berebut kursi pelayanan?
Ramah anak berarti menyediakan ruang aman, ruang bertumbuh, ruang belajar, ruang kasih. Ramah anak berarti membuka meja, bukan menutup pintu. Ramah anak berarti mengingat bahwa Yesus sendiri berkata: “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka.”
Maka pemilihan Majelis Sinode bukan sekadar proses demokratis, melainkan ujian moral. Apakah kursi Majelis Sinode itu akan berubah menjadi meja terbuka yang ramah bagi anak-anak, atau tetap menjadi panggung perebutan gengsi dan kuasa?
Seperti milyarder yang tidak memberi recehan, melainkan rumah, makanan, dan masa depan bagi seorang anak kecil, demikianlah seharusnya GPIB menghadirkan pelayanan yang sungguh nyata, bukan sekadar janji manis di atas mimbar.
Karena gereja ramah anak tidak lahir dari visi di atas kertas, melainkan dari keberanian sederhana untuk berkata: “Silakan duduk. Kamu tidak akan lapar lagi.”
Dan jangan lupa, kursi Majelis Sinode bukan untuk ditumpuk gengsi, melainkan untuk dipikul demi yang kecil.
(Kisah Richard Evans dan Emily diadaptasi dari tulisan di Gistreel Lifestyle, Facebook. Foto:Ilustrasi Digital) ewako-mappakoe@gpibwatch.id /JP
