Inspirasi
Home / Inspirasi / Di Sabu, Kristus Hadir, Akulah Nira Kehidupan

Di Sabu, Kristus Hadir, Akulah Nira Kehidupan

Kita kehilangan identitas, kita kehilangan akar, kita kehilangan wujud Kristus yang selama ini hadir dan menyertai kita lewat pohon lontar..

Jakarta, gpibwatch.id – Merindukan pulang kampung halaman tempat kita dibesarkan dan dididik, untuk sebagian orang sangatlah berharga dan bernilai, yang tak dapat diukur dengan materi apapun,

Sebagai writer di gpibwatch.id tertarik melihat tulisan Pdt.Nicodemus Boenga di medsos, untuk dirilis kembali, briefly, kisah perjalannya pulang kampung ke Pulau Sabu beberapa bulan lalu.

Apa yang dilihat Bung Nico di Pulau Sabu, NTT. tentunya sudah banyak perubahan dan patut disyukuri, namun ada juga yang membuat hati gelisah, terutama terkait pohon lontar dan kelanjutan hidup orang Sabu di masa depan.

Gagasan teologis serta ide Bung Nico yang telah lama terpendam, seakan teringat kembali dalam benaknya yaitu ” Pohon Lontar sebagai inkarnasi Kristus bagi orang Sabu.” Tetapi gagasan ini pasti punya alasan yang mendasar yaitu ;

PST Jakarta Harus Tegas, Kasus Keuangan FMS XXI Harus Ada Sanksi

Yang pertama sebuah gagasan lama yang baru bisa diungkapkan terbuka yang tinggal dalam hati dan pikirannya yang sudah 24 tahun, tentang pohon lontar sebagai bagian dari teologi inkarnasi yang kontekstual bagi orang Sabu.

Ini bukan sekadar ide akademis, ini kesaksian hidup Bung Nico sebagai  orang Sabu yang dibesarkan bukan oleh makanan pokok seperti istilah di daerah lain.

Tetapi oleh minuman pokok nira dari pohon lontar. Itulah sebabnya, jika hendak mengajak tamu untuk makan, orang Sabu akan berkata: Mai We Manginu ai. ( Mari kita minum air). 

Yang kedua, Pohon Lontar, Nafas Hidup Orang Sabu, tanpa pohon lontar, orang Sabu tidak akan hidup. Bukan hanya karena nira menjadi sumber tenaga, tetapi karena seluruh bagian dari pohon ini berguna dalam menopang kehidupan.

Ia pohon yang sangat kokoh sehingga tidak satupun tumbang atau patah karena sebab alamiah. Ia merupakan gambaran dari hidup yang teguh dan tahan menderita, namun akan memberi berkat.

“Angin Surga” vs Angin Kebenaran

Yang ketiga,  Kristus yang Hadir dalam Pohon Lontar. Inkarnasi adalah Allah yang hadir dalam dunia manusia – bukan dalam kemegahan, tetapi dalam kesederhanaan.

Yesus lahir di kandang, dibesarkan sebagai anak tukang kayu, dan hidup bersama orang miskin. Di Sabu, “Kristus hadir ” melalui pohon lontar kata Bung Nico dengan tegas.

Yang keempat, Ancaman Kehilangan Akar Kehidupan. Bung Nico. melihat sebuah gejala yang menyedihkan, orang Sabu mulai melupakan pohon lontar, banyak yang menebang tanpa menanam kembali.

Kita bukan hanya kehilangan pohon, kita kehilangan identitas, kita kehilangan akar, kita kehilangan wujud Kristus yang selama ini hadir dan menyertai kita lewat pohon lontar.

Yang kelima, Seruan untuk Kembali Menanam dan Menghargai Pohon Kehidupan. Mari kita kembali mencintai pohon lontar. Mari kita tanam kembali, rawat kembali, dan wariskan kebijaksanaan ini kepada generasi setelah kita. Mari kita jangan hanya menebang, tetapi juga menumbuhkan.

Marah Itu Mahal, Tenang Itu Gratis

Pohon lontar adalah warisan iman dan kehidupan, jika kita meninggalkannya, kita meninggalkan berkat yang Allah titipkan. Tapi jika kita menjaganya, kita sedang menjaga kehidupan, budaya, dan iman kita sendiri.

Yang keenam, Waspadalah! Pulau Sabu mengalami Siklus angin tornado (Ulihia) 35-40 sekali. Sering juga terjadi gonjangan gempa dari laut Hindia dan lempeng Sumatra. Di tambah lagi sebagian tanah di Sabu adalah “Worai kako” (tanah berjalan).

Yang ketujuh, Allah Hadir dalam Lontar. Yesus pernah berkata, Akulah roti hidup(Yohanes 6:35). Di Sabu, boleh jadi Yesus akan berkata: “Akulah nira kehidupan, barang siapa minum Aku, ia tidak akan haus lagi.”

Narasi diatas bukan ajakan untuk menyembah pohon lontar tetapi menanam dan memeliharanya. ewako-mappakoe@gpibwatch.id /JP

Berita Populer

01

Pdt. Nitis Harsono: “Tenang, Iblis Bermain Senang”

02

Tuli Mendadak, Tradisi Sejak Dini di Jabatan Fungsionaris

03

Ketok Magic Pendeta, Menggunakan Ayat Kolusi dan Ayat Nepotisme

04

Polling Aspirasi, Membentuk Demokratisasi di GPIB

05

Sang Raja, Sang Ratu di Jemaat

Ragam Berita





Sang Raja, Sang Ratu di Jemaat


Exit mobile version