EDITORIAL Inspirasi Opini
Home / Opini / Decision Maker, Larut dalam Tangisan dan Keadilan Palsu

Decision Maker, Larut dalam Tangisan dan Keadilan Palsu

Suara keadilan yang dijalankan dengan sungguh – sungguh, murni, tulus, ikhlas akan banyak yang menangis dalam kebencian, dan jangan berharap perdamaian akan datang, tanpa menanam keadilan yang nasuha.

Jakarta, gpibwatch.id – Keadilan dan Perdamaian dua kata yang saling berkaitan dan saling berhubungan, karena sejatinya tanpa keadilan, perdamaian sulit terwujud, begitupun tanpa perdamaian, keadilan sulit ditegakkan dan sulit tercapai.

Pelayanan di kota imajiner syarat dengan kebijakan, syarat dengan faktor kasih dan faktor kasihan, syarat dengan kepentingan individu dan kepentingan kelompok dan masih banyak lagi persyaratan yang dibuat sendiri untuk menyenangkan seseorang yang hanya berkumpul sementara.  

Pelayanan dan pengambilan keputusan di kota imajiner yang sudah ditetapkan bisa berubah tergantung situasi dan kondisi, dan bisa juga ada pesanan yang tersembunyi untuk kepentingan seseorang, dan masih banyak lagi situasi yang tak berkenan dan hiruk pikuk yang tak sesuai dengan aturan

Pengambilan keputusan yang selalu melanggar aturan terus berlanjut, dan kebijakan rasa kasihan selalu didengungkan, dan para decision maker di kota imajiner terlarut dengan tangisan dan kasihan bersama dalam keadilan palsu, dan tata kelola serta tata layan yang sudah di ketok hanyalah pajangan atau simbolik.

Antara Politik dan Missio Dei

Keadilan adalah keadaan di mana setiap orang diperlakukan secara setara, layak, dan sesuai dengan hak dan kewajiban masing-masing dan tidak memihak dalam menilai atau memutuskan sesuatu dan memberikan kepada setiap orang apa yang menjadi haknya.

Di kota imajiner banyak terjadi penyimpangan dalam bicara soal keadilan, ada beberapa kasus yang tak dapat diselesaikan dengan baik, ada tebang pilih, bahkan terkadang di pending sampai waktu yang tidak diketahui, dan yang bermasalah ataupun dianggap bermasalah harus tabah menerima apapun yang terjadi.

Suara keadilan harus terus dikumandangkan, dibahanakan secara adil, jujur dan benar dalam mengambil keputusan, tidak memihak, impartial melainkan bekerja sesuai dengan panggilan iman, panggilan kasih, dan suara keadilan yang dijalankan dengan sungguh – sungguh, murni, tulus, ikhlas akan banyak yang menangis dalam kebencian, dan jangan berharap perdamaian akan datang, tanpa menanam keadilan yang nasuha.

Narasi imajiner melalui podcast imajiner sudah menyampaikan tentang perlunya memperlakukan orang dengan bijak, menghormati jerih payah mereka, menghargai apa yang sudah mereka lakukan dan kerjakan, serta bersikap objektif dalam menilai. ewako-mappakoe@gpibwatch.id (JP) 

PST Jakarta, Peserta via Zoom Keluhkan Sulitnya Akses Masuk

Related Posts

Berita Populer

01

Pdt. Nitis Harsono: “Tenang, Iblis Bermain Senang”

02

Tuli Mendadak, Tradisi Sejak Dini di Jabatan Fungsionaris

03

Ketok Magic Pendeta, Menggunakan Ayat Kolusi dan Ayat Nepotisme

04

Polling Aspirasi, Membentuk Demokratisasi di GPIB

05

Sang Raja, Sang Ratu di Jemaat

Ragam Berita





Sang Raja, Sang Ratu di Jemaat


Exit mobile version