Jabatan iman bukanlah hasil kolusi, nepotisme, kompromi, atau lobi-lobi pragmatis. Ia seharusnya menjadi buah dari panggilan yang dijalani dengan tulus, bukan hasil dari strategi instan….
Makassar, gpibwatch.id — “Hidup tiada mungkin tanpa perjuangan, tanpa pengorbanan mulia adanya… Berpeganglah tangan satu dalam cita demi masa depan Indonesia jaya…”
Lirik lagu Indonesia Jaya ciptaan Chaken M. ini seakan menjadi cermin perjuangan bahwa segala hal yang bernilai lahir dari kerja keras, kesabaran, dan pengorbanan — bukan dari jalan pintas.
Dalam dunia pelayanan, jabatan iman bukanlah hasil kolusi, nepotisme, kompromi, atau lobi-lobi pragmatis. Ia seharusnya menjadi buah dari panggilan yang dijalani dengan tulus, bukan hasil dari strategi instan.
Kisah Pendeta Ebser Lalenoh adalah cerminan nyata dari nilai itu. Beliau menempuh perjalanan panjang penuh kesabaran dan ketekunan, menanti waktunya tiba. Empat tahun lalu, di PS — XXI Surabaya 2021, ia hanya terpaut satu suara dari kandidat unggulan.
Namun di PSR XXII Makassar 2025, kesetiaan dan konsistensinya berbuah nyata — 78 persen, atau 272 suara dari 347 pemilih, mempercayakan dirinya sebagai Sekretaris Umum Majelis Sinode GPIB 2025–2030.
Akan tetapi, perjuangan belum berakhir. Di depan terbentang tanggung jawab besar, menjalankan roda pelayanan Majelis Sinode bersama sepuluh rekan lainnya. Jemaat kini menanti langkah nyata mereka dalam menata administrasi dan mengelola pelayanan dengan integritas dan keteladanan.
Sebab seperti aroma kopi yang nikmat, hanya kopi yang tulen dan berintegritas yang mampu meninggalkan kesan mendalam. Demikian pula mereka yang kredibel dalam pelayanan — akan bekerja sepenuh hati dan dengan kerendahan hati. Makassar—Ewako / JP
