Opini
Home / Opini / BUKAN UANG MALING, TAPI INTEGRITAS

BUKAN UANG MALING, TAPI INTEGRITAS

Seorang ayah yang berintegritas tidak akan memberi makan dan minum keluarganya dari hasil yang bukan haknya…

Jakarta, gpibwatch.id — Pada detik-detik terakhir hidupnya, Tom Smith memanggil anak-anaknya. Dengan suara yang kian melemah, ia menasihati mereka agar mengikuti jejak hidupnya—hidup dengan jujur, agar memperoleh ketenangan jiwa dalam setiap hal yang mereka lakukan.

Namun putrinya, Sara, menjawab dengan nada kecewa, “Ayah, kami kecewa. Ayah meninggalkan kami tanpa uang sepeser pun di bank. Para ayah lain yang Ayah sebut sebagai koruptor dan pencuri uang publik mampu mewariskan rumah dan properti. Kita bahkan tinggal di apartemen sewaan. Maaf, Ayah. Aku tidak bisa mengikuti jalan hidup Ayah. Biarlah kami mencari jalan sendiri.” Tak lama kemudian, sang ayah menutup mata untuk selama-lamanya.

Cara pandang yang sepenuhnya berorientasi duniawi — pada uang, kenyamanan instan, dan gaya hidup hedonis — kerap meniadakan empati. Hidup dipahami sekadar kesempatan menikmati dunia selagi ada waktu, tanpa memahami keterbatasan dan pergumulan orang tua yang memilih setia pada nilai-nilai kebenaran.

Kisah ini sungguh miris. Tidak ada ruang simpati. Tidak ada empati. Yang ada hanyalah perbandingan: orang tua yang jujur disandingkan dengan mereka yang kaya melalui jalan yang keliru.

Menutup Buku Lama, Membuka Lembaran Baru dalam Terang Kasih

Padahal, kekayaan yang diperoleh dengan cara benar adalah anugerah Ilahi yang patut disyukuri, sekecil apa pun bentuknya. Seorang ayah yang berintegritas tidak akan memberi makan dan minum keluarganya dari hasil yang bukan haknya. Ia memilih hidup sederhana, karena percaya Tuhan akan menyediakan jalan keluar terbaik bagi keluarganya.

Takut hidup sederhana bukanlah dosa, dan terlahir dari keluarga apa adanya bukanlah aib. Yang sungguh memiskinkan adalah ketika integritas ditinggalkan demi kenyamanan sesaat.

Seorang ayah yang jujur mungkin tidak meninggalkan harta berlimpah, tetapi ia mewariskan sesuatu yang tak ternilai: keteladanan, kejujuran, dan nurani yang bersih. Warisan ini tidak tercatat dalam buku bank, namun cepat atau lambat akan berbuah dalam kehidupan anak-anaknya—karena mereka tidak dibesarkan oleh uang curian, melainkan oleh nilai yang benar.

Catatan: Tulisan ini merupakan refleksi pribadi penulis yang dikembangkan dari potongan pesan digital. ewako-mappkoe@gpibwatch.id /JP

Related Posts

Berita Populer

01

Pdt. Nitis Harsono: “Tenang, Iblis Bermain Senang”

02

Tuli Mendadak, Tradisi Sejak Dini di Jabatan Fungsionaris

03

Ketok Magic Pendeta, Menggunakan Ayat Kolusi dan Ayat Nepotisme

04

Polling Aspirasi, Membentuk Demokratisasi di GPIB

05

Sang Raja, Sang Ratu di Jemaat

Ragam Berita





Sang Raja, Sang Ratu di Jemaat


Exit mobile version