Opini
Home / Opini / Bukan Mereka, Tapi Kita

Bukan Mereka, Tapi Kita

Siapa sebenarnya yang lebih layak disebut tidak tahu berterima kasih, tegar tengkuk, penggerutu, dan pemberontak terhadap TUHAN, Israel di padang gurun, atau kita hari ini??

Surabaya, gpibwatch.id – Sering kali kita menilai secara sinis bangsa Israel yang baru saja dibebaskan TUHAN (Yahwe) dari tanah Mesir sebagai bangsa yang tidak tahu diri, tegar tengkuk, suka menggerutu, dan mudah memberontak hanya karena hal-hal sepele.

Kita menganggap mereka tidak tahu berterima kasih, padahal TUHAN telah membebaskan mereka dari perbudakan. Namun, benarkah mereka benar-benar tidak tahu berterima kasih pada TUHAN? Mari kita mencoba melihat dari sisi lain yang jarang diperhatikan.

Jika kita mau sedikit tenang dan bijaksana dalam menilai bangsa Israel, kita akan menemukan sesuatu yang berbeda. Ketika mereka masih di Mesir, meskipun berstatus “budak,” mereka sebenarnya memiliki kepastian hidup. Mereka makan pada waktunya, beristirahat, dan kembali bekerja pada jamnya. Semua tersedia, meski dengan kerja keras. Perut kenyang, waktu istirahat jelas, dan ada kepastian esok hari.

Bukankah kita pun akan merasa aman dan bersyukur bila memiliki kepastian seperti itu—kapan makan, kapan istirahat, dan kapan bekerja? Bukankah rutinitas yang teratur itu bagian dari kebutuhan dasar manusia?

Antara Politik dan Missio Dei

Maka, wajar jika mereka bersungut-sungut ketika memasuki padang gurun. Mereka kehilangan kepastian paling dasar: makan dan minum. Dalam perjalanan panjang yang penuh ketidakpastian, siapa pun akan mudah jengkel dan marah. Bagaimana mungkin mereka bisa bersyukur ketika untuk makan pun mereka tidak tahu harus bagaimana?

Mereka kelelahan di bawah terik matahari, haus, lapar, dan tidak punya cara untuk mengatasinya. Dalam kondisi seperti itu, wajar bila mereka ragu pada Musa, Harun, bahkan pada TUHAN. Bagaimana mereka bisa percaya kepada TUHAN yang mereka bahkan belum benar-benar kenal?

Di Mesir, selama ratusan tahun, mereka tidak diajar mengenal TUHAN. Bukankah untuk mengenal TUHAN dibutuhkan pengajaran dan pendidikan iman sejak kecil? Apakah adil bila mereka disebut tegar tengkuk, penggerutu, dan tidak tahu berterima kasih hanya karena mereka bertindak seperti manusia yang panik dalam ketidakpastian?

Sesungguhnya, kisah Israel di padang gurun justru menjadi cermin bagi kita. Bukankah kita pun sering bersungut-sungut dan memberontak kepada TUHAN hanya karena hal-hal sepele? Kadang hanya karena tersinggung oleh perkataan seseorang di gereja, kita memilih menjauh dari persekutuan.

Padahal mungkin orang itu tidak bermaksud menyinggung sama sekali. Bedanya, jika Israel dulu tidak mengenal TUHAN karena tidak pernah diajar, kita sejak kecil sudah dididik mengenal TUHAN melalui keluarga dan gereja. Namun, mengapa kita masih sering tidak percaya dan menggerutu hanya karena doa kita terasa belum dijawab?

Kalau begitu, siapa sebenarnya yang lebih layak disebut tidak tahu berterima kasih, tegar tengkuk, penggerutu, dan pemberontak terhadap TUHAN, Israel di padang gurun, atau kita hari ini?

PST Jakarta, Peserta via Zoom Keluhkan Sulitnya Akses Masuk

Dengan pendidikan dan pengajaran iman yang begitu intens, seharusnya kepercayaan dan iman kita jauh lebih matang. Tapi, mengapa kenyataannya kita tidak jauh lebih baik? Apakah ada yang keliru dalam sistem pengajaran iman di keluarga, gereja, atau masyarakat kita?

Rasanya, kita perlu meninjau ulang cara kita memahami dan menilai. Sebab mungkin, cerita dalam Bilangan 14 itu bukan tentang mereka, tetapi tentang kita. DR/jp

Related Posts

Berita Populer

01

Pdt. Nitis Harsono: “Tenang, Iblis Bermain Senang”

02

Tuli Mendadak, Tradisi Sejak Dini di Jabatan Fungsionaris

03

Ketok Magic Pendeta, Menggunakan Ayat Kolusi dan Ayat Nepotisme

04

Polling Aspirasi, Membentuk Demokratisasi di GPIB

05

Sang Raja, Sang Ratu di Jemaat

Ragam Berita





Sang Raja, Sang Ratu di Jemaat


Exit mobile version