Opini
Home / Opini / Berpikir Sinodal, Tidak Lagi Terkotak-kotak

Berpikir Sinodal, Tidak Lagi Terkotak-kotak

Ketika setiap tangan dan hati bersatu,  di sanalah GPIB menemukan maknanya, satu panggilan menuju masa depan yang diberkati…

Bekasi, gpibwatch.id — Pemahaman tentang gereja Tuhan harus dibangun bersama—dengan keteguhan hati terhadap panggilan yang telah dipercayakan. Kita dipanggil untuk berpikir dan bertindak secara sinodal, bukan lagi terkotak-kotak. Sebab tanpa kesatuan hati, tanpa penghayatan panggilan dan kebersamaan, ngak mungkin! Gereja Tuhan bisa maju.

Kesatuan hati yang sejati lahir dari kerja keras, ketulusan, dan kerendahan hati. Orang harus mau merendahkan diri demi panggilan ini. Tidak ada pekerjaan yang benar-benar ringan, tetapi jika semuanya dilakukan dengan mengandalkan Tuhan, dalam kebersamaan, dan dengan sikap mau diatur serta menata diri menurut panggilan dan pengutusan, maka tidak ada yang mustahil.

Kita punya tata aturan—tinggal tergantung, maukah kita menaatinya? Kepatuhan itulah yang membuat roda organisasi berjalan baik. Itulah baru bisa disebut sistem yang hidup.

Kepatuhan dan kepatutan dalam menjalankan tugas harus benar-benar mengembalikan gereja pada koridor Firman Tuhan. Gereja harus bergerak menurut tatanan yang berlaku, dan semua pelayan Tuhan harus bersedia diatur oleh Firman serta aturan gereja.

Kunci sukses pelayanan siapa pun juga adalah kembali ke dasar Alkitab. Pertama, Firman Tuhan harus menjadi fondasi kuat bagi setiap pelaksana misi-Nya. Kedua, aturan yang ada harus diimplementasikan dengan baik.

Menutup Buku Lama, Membuka Lembaran Baru dalam Terang Kasih

Ketiga, setiap pelayan harus memiliki rasa senasib sepenanggungan—bukan memimpin dengan kekuasaan, tetapi dengan empati dan kepedulian terhadap saudara-saudara sepelayanan di berbagai tempat.

Berpikir sinodal berarti menata langkah bersama. Kita harus merencanakan dan memutuskan dengan semangat kebersamaan yang utuh. Tidak bisa lagi terkotak-kotak. Koordinasi kerja harus diperjelas dan disinergikan. Karena itu, kesatuan hati dan pikiran di antara seluruh Majelis Sinode GPIB perlu terus diperkuat dan dipertahankan, agar pelayanan tidak berjalan sendiri-sendiri.

Dalam wawancara yang dilakukan 21 April 2025 melalui panggilan WA bersama John Paulus dari GPIB WATCH, Pdt. Ebser Lalenoh, KMJ GPIB Jemaat Menara Kasih Bekasi, yang kini terpilih sebagai Sekretaris Umum Majelis Sinode GPIB XXII Masa Pelayanan 2025–2030, menegaskanarah besar GPIB ke depan:

“Dalam rangka menuju 100 tahun GPIB, kita harus memiliki kemandirian—baik dalam memajukan warga jemaat, pelayanan, maupun kesaksian. GPIB harus bisa berbicara dalam tataran nasional, memberi warna, dan menghadirkan pengaruh positif. Kita punya sumber daya manusia, khususnya para presbiter, dengan kapasitas dan kapabilitas yang tidak diragukan. Mereka menguasai berbagai sistem dan siap membawa GPIB maju.”

Refleksi ini meneguhkan kita bahwa berpikir sinodal bukan sekadar urusan sistem, tetapi soal hati yang mau berjalan bersama. Bahwa panggilan gereja bukan hanya soal siapa yang memimpin, tetapi bagaimana semua bersedia dipimpin oleh Firman.

Dan ketika setiap tangan dan hati bersatu, tak ada roda yang berhenti, tak ada langkah yang sendiri. Di sanalah GPIB menemukan maknanya: satu tubuh, satu panggilan, satu arah menuju masa depan yang diberkati. ewako-mappakoe@gpibwatch.id /JP

PST Jakarta Harus Tegas, Kasus Keuangan FMS XXI Harus Ada Sanksi

Related Posts

Berita Populer

01

Pdt. Nitis Harsono: “Tenang, Iblis Bermain Senang”

02

Tuli Mendadak, Tradisi Sejak Dini di Jabatan Fungsionaris

03

Ketok Magic Pendeta, Menggunakan Ayat Kolusi dan Ayat Nepotisme

04

Polling Aspirasi, Membentuk Demokratisasi di GPIB

05

Sang Raja, Sang Ratu di Jemaat

Ragam Berita





Sang Raja, Sang Ratu di Jemaat


Exit mobile version