Opini
Home / Opini / Bermimpi Besar Menjadi Majelis Sinode GPIB-XXII

Bermimpi Besar Menjadi Majelis Sinode GPIB-XXII

Gereja bukan panggung, dan Tuhan tidak bisa dikelabui dengan gaya khotbah yang meyakinkan. Yang Dia cari bukan aktor rohani, tapi pelayan yang berani melawan sistem “diam demi aman.”…

Makassar, gpibwatch.id – Tak kala khayalan berkelana entah ke mana, lamunan seakan terangkat ke langit tinggi. Teringat akan sofa tanpa kutu busuk — yang kelak akan kunikmati seharian penuh, jika terpilih.

Suasana sukmaku serasa di surga nan indah. Mimpi, ilusi, dan delusi pun menghantuiku — manis di awal, getir di ujung kenyataan. Selamat datang di dunia rohani yang penuh fantasi.

Katanya mau bermimpi besar jadi Majelis Sinode GPIB-XXII. Tapi sayangnya, banyak yang bermimpi bukan karena panggilan, melainkan karena panggilan panitia pemilihan.

Yang katanya mau melayani, tapi sibuk menghitung dukungan — bukan jumlah jiwa yang diselamatkan, melainkan jumlah jemaat yang bisa “diamankan.”

Antara Politik dan Missio Dei

Yang katanya mau jadi terang dunia, tapi sinarnya cuma kuat waktu live streaming dan meredup setelah rapat ditutup.

Lingkungan pelayanan pun tak kalah menarik. Di satu meja bicara soal visi gereja yang transformasional, di meja sebelah sibuk menimbang-nimbang siapa yang paling pantas duduk di kursi empuk tanpa harus terlalu banyak bekerja.

Yang rajin bicara soal kerendahan hati biasanya paling cepat menulis nama sendiri di kertas pencalonan.

Begitu banyak yang bermimpi besar, tapi tak sadar hidup di ruang hampa etika. Mereka saling menyebut “rekan sepelayanan,” namun diam-diam memelihara jaringan politik internal yang bahkan partai sekuler pun bisa malu melihatnya.

Bahkan doa pembukaan pun terdengar seperti kode sandi untuk memastikan dukungan tak berpindah tangan. Lucunya, semua mengaku dipanggil Tuhan. Padahal mungkin Tuhan pun heran — sejak kapan kursi Majelis Sinode jadi hadiah hiburan bagi yang paling pandai menyusun kata “pelayanan” dengan wajah penuh kesalehan, tapi hati penuh strategi?

Majelis Sinode GPIB-XXII — mimpi besar, ya. Tapi seringkali tanpa isi besar. Yang tersisa bukan mereka yang melayani, melainkan mereka yang paling tahan pura-pura suci di depan kamera, dan paling cepat mengeluh di belakang layar.

PST Jakarta, Peserta via Zoom Keluhkan Sulitnya Akses Masuk

Bermimpilah besar, tapi jangan lupa — gereja bukan panggung, dan Tuhan tidak bisa dikelabui dengan gaya khotbah yang meyakinkan. Yang Dia cari bukan aktor rohani, tapi pelayan yang berani melawan sistem “diam demi aman.”

Kalau masih berpikir bahwa menjadi Majelis Sinode itu soal gengsi, bukan panggilan, maka mungkin mimpi besarmu sebaiknya dikubur saja bersama ambisi yang kamu bungkus dengan doa.

Dan ingat — Seruput kopi akan mengantarkan kita bermimpi besar, jika kopi itu berkualitas tinggi. Karena kopi murahan hanya memberi rasa pahit, bukan kesadaran. Dari Lamunan ke Kursi yang Didambakan, Makassar Pung Carita – JP

Related Posts

Berita Populer

01

Pdt. Nitis Harsono: “Tenang, Iblis Bermain Senang”

02

Tuli Mendadak, Tradisi Sejak Dini di Jabatan Fungsionaris

03

Ketok Magic Pendeta, Menggunakan Ayat Kolusi dan Ayat Nepotisme

04

Polling Aspirasi, Membentuk Demokratisasi di GPIB

05

Sang Raja, Sang Ratu di Jemaat

Ragam Berita





Sang Raja, Sang Ratu di Jemaat


Exit mobile version