Gereja ini membutuhkan sosok yang berani tampil beda, menolak mentalitas rata-rata, mampu berinovasi, berkreasi, dan membawa semangat pembaruan.
Jakarta, gpibwatch.id – Menjadi orang biasa itu mudah. Hidup dijalani apa adanya, mengikuti arus, tanpa target, tanpa keberanian mengambil langkah baru.
Namun, justru di situlah letak risikonya. Orang yang berhenti berkembang hanya akan menjadi penonton dalam perlombaan kehidupan, sekadar konsumen, sasaran, bahkan mungkin mangsa.
Demikian juga dalam kehidupan bergereja. GPIB tidak bisa dijalankan hanya dengan pemimpin yang puas berada di “zona nyaman.” Gereja ini membutuhkan sosok yang berani tampil beda, yang berani melampaui kebiasaan lama, menolak mentalitas rata-rata, dan siap membuka jalan baru bagi pelayanan yang lebih relevan.
Pemilihan Majelis Sinode (MS) GPIB bukan sekadar rutinitas lima tahunan. Ini adalah momentum besar untuk menghadirkan pemimpin yang bukan saja cakap, tapi juga berbeda: punya visi, integritas, dan komitmen pelayanan yang tulus.
Gereja ini memerlukan pemimpin yang mampu berinovasi, berkreasi, dan membawa semangat pembaruan.
Seperti Pangeran Diponegoro yang berani memilih jalan sulit demi rakyatnya, atau Hirotada Ototake yang menolak menyerah pada keterbatasan, demikian pula GPIB membutuhkan pemimpin yang bersedia berjuang, menembus keterbatasan, dan memberi warna baru bagi jemaat serta bangsa.
Beranikah kita, baik sebagai pemimpin maupun jemaat, tampil beda dalam pemilihan MS GPIB kali ini? Beranikah kita memilih dan menghadirkan pemimpin yang benar-benar melampaui rata-rata, yang memberi arah baru, dan meninggalkan jejak berarti bagi generasi berikutnya?
Karena hanya dengan keberanian tampil beda, GPIB akan tetap hidup, relevan, dan memberi dampak nyata bagi bangsa dan dunia.ewako-mappoke@gpibwatch.id /JP
