Jemaat menanti bendahara yang kredibel, bukan sekadar pengisi kursi, karena di sinode, angka bisa bermain cantik, tapi integritas tak pernah bohong….
Makassar, gpibwatch.id – Menemukan bendahara yang benar-benar kredibel di Majelis Sinode GPIB bukan perkara mudah. Posisi ini bukan untuk mereka yang sibuk di dua kursi lipat: pagi rapat kantor, sore rapat sinode. Energi bisa habis untuk dunia kerja, sementara urusan keuangan gereja tinggal dijadikan “pelengkap gaji” dengan irama syahdu tanpa arah.
Berdasarkan data wawancara dengan GPIBWATCH, kandidat yang sudah pasti maju adalah Penatua Togi Sitindaon, Penatua Boyke Siagian untuk Bendahara dan Penatua Valery Siwy untuk Bendahara I. Sampai kini, belum terlihat rival yang sepadan. Jika muncul kandidat kagetan, tanpa rekam jejak jelas, maka panitia kredensi akan jadi tempat pertama untuk menguji keseriusannya.
Seorang Menteri Keuangan Majelis Sinode GPIB – XXII dituntut bukan hanya menghitung uang, tapi menjaga kepercayaan jemaat, mengelola dana agar tidak defisit, dan bekerja sesuai dengan kaidah dan tetap bekerjasama dengan lintas bidang untuk menjalankan PKA MS.GPIB tahun anggaran berjalan. Dan Jangan sekali-kali memperlakukan posisi bendahara sebagai “kursi lipat tambahan” — karena kursi seperti itu cepat patah.
Kopi bisa lebih pahit jika diseduh tanpa takaran. Tapi akan beracun jika bijinya ditelan mentah-mentah. Begitu pula dengan bendahara — salah hitung sedikit, bisa kolaps dan stroke jari-jari akibat stres menyeimbangkan neraca yang terus menipis.
Jemaat di 356 titik pelayanan menanti bendahara yang kredibel, bukan sekadar pengisi kursi. Karena di sinode, angka bisa bermain cantik, tapi integritas tak pernah bohong. Makassar Pung Carita-JP
