Opini
Home / Opini / Batu-Batu di Saku

Batu-Batu di Saku

Hidup yang saling berbagi dan saling menolong adalah prinsip Ilahi — jalan pembebasan dari kepenatan dan kerumitan hidup…

Jakarta, gpibwatch.id — Sepanjang tahun, seseorang berjalan jauh. Tanpa sadar, ia terus memasukkan batu ke dalam sakunya. Ada batu bernama marah, batu bernama kecewa, cemburu, iri hati, dengki, bahkan batu bernama harapan yang tak pernah terwujud. Hari demi hari, batu-batu itu memenuhi sakunya.

Langkah kakinya kian berat. Napasnya makin pendek — bukan karena asma bronkiale, bukan karena jarak yang terlalu panjang, melainkan karena beban yang lama disimpan tanpa pernah diberi jalan keluar.

Di tepi sungai terakhir sebelum tahun berganti, ia duduk dan membuka sakunya. Satu per satu batu jatuh ke air—tanpa upacara, tanpa drama, tanpa memilah batu mana yang lebih pantas dilepaskan lebih dulu. Batu-batu itu jatuh begitu saja, seolah tahu jalannya sendiri. Anehnya, sungai tidak menjadi penuh. Ia justru mengalir lebih tenang.

Ia berdiri kembali. Sakunya kini kosong. Langkahnya ringan, pikirannya jernih, sesak itu perlahan menghilang. Di sanalah ia mengerti: bukan jalannya yang terlalu panjang, melainkan beban yang terlalu lama disimpan — beban yang bertahan karena kesombongan dan keangkuhanyang menolak mencari solusi.

Menutup Buku Lama, Membuka Lembaran Baru dalam Terang Kasih
Lalu pertanyaannya muncul: Sanggupkah kita melakukan hal yang sama? Melepaskan beban yang telah terlalu lama kita simpan dalam saku kehidupan? Sanggupkah kita merelakannya pergi, sementara beban hidup bukan hanya soal ekonomi, melainkan juga luka relasi, kekecewaan, bahkan beban dalam konteks pelayanan?

Setiap manusia memiliki mekanismenya sendiri untuk mengatasi beban yang tersaku. Namun sebagai umat yang percaya pada anugerah dan rahmat Tuhan, keringanan itu hadir bukan karena kita kuat, melainkan karena kita berserah pada solusi yang tepat.

Tidak semua orang mampu melepaskan penatnya. Banyak yang memilih mengandalkan kekuatan sendiri, hingga beban itu menjadi berkepanjangan. Batu – batu di saku pun menumpuk, melahirkan stres yang berkepanjangan jika hati terus dikeraskan.

Alkitab berkata: “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” (1 Petrus 5:7)

Jika di penghujung tahun ini kamu merasa lelah, mungkin bukan karena hidupmu terlalu buruk, melainkan karena terlalu banyak yang kamu simpan sendiri — karena ego yang enggan berserah.

Tahun baru tidak menuntut kita menjadi lebih kuat, melainkan memiliki hati yang lebih ringan, iman yang lebih percaya, dan keberanian untuk saling memaafkan.

PST Jakarta Harus Tegas, Kasus Keuangan FMS XXI Harus Ada Sanksi

Sebab hidup yang saling berbagi dan saling menolong adalah prinsip Ilahi — jalan pembebasan dari kepenatan dan kerumitan hidup. ewako-mappakoe@gpibwatch.id /ER/JP

Related Posts

Berita Populer

01

Pdt. Nitis Harsono: “Tenang, Iblis Bermain Senang”

02

Tuli Mendadak, Tradisi Sejak Dini di Jabatan Fungsionaris

03

Ketok Magic Pendeta, Menggunakan Ayat Kolusi dan Ayat Nepotisme

04

Polling Aspirasi, Membentuk Demokratisasi di GPIB

05

Sang Raja, Sang Ratu di Jemaat

Ragam Berita





Sang Raja, Sang Ratu di Jemaat


Exit mobile version