Nilai siri na pacce—harga diri dan solidaritas—yang begitu kental di Makassar, GPIB ditantang, apakah ia hanya menjadi penonton perubahan zaman, ataukah benar-benar ikut melintasi gelombang disrupsi dengan tekad membawa terang Kristus?
Makassar, gpibwatch.id – Angin Mamiri bukan sekadar lagu rakyat yang merdu dari Makassar. Ia adalah simbol kelembutan sekaligus kekuatan, yang kini berhembus menjadi tanda pembaharuan bagi GPIB. Dari kota yang dahulu menjadi simpul pertemuan bangsa-bangsa, kini jemaat dari 356 titik pelayanan hadir untuk meneguhkan arah baru dalam Persidangan Sinode Raya-XXII.
Angin yang bertiup dari timur Indonesia ini membawa pesan, gereja harus selalu siap berubah. Dalam dunia yang kian cepat bergerak, pelayanan GPIB tidak cukup hanya bertahan, tetapi mesti berani menjemput masa depan dengan sikap terbuka, kreatif, dan bijak.
Pemilihan Majelis Sinode bukan semata pergantian nakhoda, melainkan penegasan kembali komitmen untuk melayani Kristus dalam keragaman dan tantangan zaman.
Nilai siri na pacce—harga diri dan solidaritas—yang begitu kental di Makassar, seakan berpadu dengan panggilan Injil, mengasihi tanpa lelah, melayani tanpa batas. Di sinilah GPIB ditantang, apakah ia hanya menjadi penonton perubahan zaman, ataukah benar-benar ikut melintasi gelombang disrupsi dengan tekad membawa terang Kristus?
Angin Mamiri kini berbisik, “Berubahlah, Perbaruilah.” Bisikan itu bukan sekadar puisi, melainkan panggilan iman. Gereja dipanggil untuk mendayagunakan potensi lintas generasi, memanfaatkan teknologi digital, dan tetap berakar pada kasih Kristus.
Semoga angin dari Makassar ini bukan sekadar semilir yang lewat, tetapi benar-benar menjadi angin pembaharuan yang menyalakan harapan, menyatukan langkah, dan meneguhkan GPIB untuk terus setia melayani bangsa. ewako-mappakoe@gpibwatch.id /JP
