Di setiap adu strategi, yang paling tenanglah yang paling berbahaya, dan yang bisa menikmati pahitnya kopi tanpa banyak bicara, biasanya sedang menyiapkan langkah berikutnya….
Jakarta, gpibwatch.id – Adu strategi dan adu ayam, dua format yang sama-sama membutuhkan tenaga, pikiran yang jernih, dan kecerdasan naluriah.
Dalam konteks pemilihan Majelis Sinode GPIB, adu strategi tentu tidak menggunakan pisau tajam kecil seperti dalam adu ayam, melainkan menggunakan pisau pikiran dan logika. Namun sama seperti dalam arena sabung ayam, strategi yang salah bisa berujung luka, bahkan “mati di tempat”.
Dalam pesta suksesi Majelis Sinode GPIB, para calon dan pendukungnya mengasah taktik: strategi senyap, strategi tutup mulut, strategi nongkrong, hingga strategi kagetan — sebuah sudden strategy menuju titik kulminasi kejayaan semesta.
Adu strategi antar kontestan akan semakin sengit dan panas ketika semua sudah berada di dalam ballroom. Di sana, kedipan mata bisa berarti banyak hal, bisa undangan, bisa sinyal, bisa transaksi dukungan.
Ada pula strategi ayam: tembak langsung, memohon untuk dipilih tanpa malu, tanpa sungkan. Sebab ayam juga tahu kapan harus berkokok lantang demi kemenangan. Ia rela berkorban, menggunakan senjata pamungkas di kakinya, demi satu teriakan yang menggema ‘kukuruyuk!
Namun strategi ayam, meski kadang tampak sederhana, justru bisa menjadi yang paling menakutkan, karena sering kali merupakan strategi pesanan dari mereka yang sedang melakukan tukar-guling jabatan empuk.
Dan setelah semua strategi dimainkan, yang kalah diam, yang menang tersenyum samar, tinggallah secangkir kopi di atas meja, uapnya menari di udara ballroom yang mulai dingin.
Di situlah refleksi dimulai, bahwa dalam setiap adu strategi, yang paling tenanglah sebenarnya yang paling berbahaya, dan yang bisa menikmati pahitnya kopi tanpa banyak bicara, biasanya sedang menyiapkan langkah berikutnya. ewako-mappakoe@gpibwatch.id /JP
