Opini
Home / Opini / Adakah Penghargaan terhadap MS GPIB XXI?

Adakah Penghargaan terhadap MS GPIB XXI?

Dan tidak ada satu pun periode Majelis Sinode yang mampu menyenangkan seluruh pihak…

Jakarta, gpibwatch.id — Setiap organisasi pelayanan yang memikul tanggung jawab besar selalu berjalan di antara pujian dan kritik. Begitu pula Majelis Sinode GPIB XXI. Dengan mengurus 356 jemaat dan 282 Pos Pelkes, mereka menjalani tugas yang tidak ringan—sering kali dengan tekanan yang tidak terlihat oleh banyak orang.

Di sepanjang perjalanan itu, sebagian pihak menilai bahwa beberapa kebijakan terasa tidak adil atau kurang merata. Ada yang menyebut adanya kesan pilih kasih. Ada pula yang kecewa karena dinamika mutasi dan penempatan yang tidak sesuai harapan. Suara-suara seperti itu wajar muncul dalam ruang pelayanan yang luas dan kompleks.

Namun di balik semua itu, kita juga perlu mengakui satu kenyataan: MS GPIB XXI telah menyelesaikan pertandingan mereka. Mereka menjalankan panggilan dengan segala kelebihan dan kekurangannya—dan tidak ada satu pun periode Majelis Sinode yang mampu menyenangkan seluruh pihak.

Kini tongkat pelayanan telah berpindah ke MS GPIB XXII. Tugas mereka bukan hanya melanjutkan pelayanan, tetapi juga membangun kembali kepercayaan, menata ulang ritme organisasi, dan membuat keputusan secara bebas dari intervensi mana pun. Termasuk dalam penempatan lima pendeta MS GPIB XXI, yang perlu dilakukan berdasarkan kapasitas, kapabilitas, dan panggilan pelayanan, bukan karena tekanan atau persepsi.

Di tengah berbagai kritik yang pernah muncul, ada satu hal yang perlu dihargai bersama: Selayaknya ada bentuk penghargaan bagi lima pendeta MS GPIB XXI yang telah mengabdi 5 hingga 10 tahun dalam tugas pelayanan sinodal.

Menutup Buku Lama, Membuka Lembaran Baru dalam Terang Kasih

Penghargaan bukan berarti menutup mata terhadap kekurangan. Penghargaan adalah pengakuan atas dedikasi dan waktu yang telah diberikan. Bahwa mereka pernah menjadi bagian dari perjalanan gereja dan telah memberi diri dalam kesetiaan.

Gereja selalu belajar untuk: mengoreksi tanpa melukai, mengkritik tanpa menghapus kebaikan, dan menghargai pelayanan tanpa meniadakan evaluasi.

Di situlah kedewasaan tubuh Kristus diuji—bagaimana kita menghormati mereka yang telah melayani, sekaligus tetap membuka ruang pembaruan bagi masa depan. ewako-mappakoe@gpibwatch.id / JP

PST Jakarta Harus Tegas, Kasus Keuangan FMS XXI Harus Ada Sanksi

Related Posts

Berita Populer

01

Pdt. Nitis Harsono: “Tenang, Iblis Bermain Senang”

02

Tuli Mendadak, Tradisi Sejak Dini di Jabatan Fungsionaris

03

Ketok Magic Pendeta, Menggunakan Ayat Kolusi dan Ayat Nepotisme

04

Polling Aspirasi, Membentuk Demokratisasi di GPIB

05

Sang Raja, Sang Ratu di Jemaat

Ragam Berita





Sang Raja, Sang Ratu di Jemaat


Exit mobile version