Opini
Home / Opini / Gereja Tidak Rusak Karena Kritik, Tapi Karena Semua Memilih Diam

Gereja Tidak Rusak Karena Kritik, Tapi Karena Semua Memilih Diam

“Setahun Mengusik dan Mengingatkan”

Jakarta, gpibwatch.id – GPIBWATCH lahir dalam semangat untuk memberi yang terbaik bagi Gereja-Nya, menjadi kontributor yang konstruktif bagi karya pelayanan gereja dalam melaksanakan panggilan dan pengutusan-Nya di Indonesia.

GPIBWATCH adalah salah satu mata, telinga, dan suara bagi GPIB — dari sekian banyak mata yang melihat, telinga yang mendengar, dan hati yang peduli. Semakin banyak mata melihat, semakin luas cakrawala pandang yang dimiliki. Semakin banyak telinga mendengar, semakin banyak informasi yang dapat menjadi bahan refleksi bersama.

Namun pada akhirnya, semua tetap bermuara pada satu hati yang sama: melayani Tuhan melalui gereja-Nya.

Karena itu, GPIBWATCH hadir bukan sebagai lawan perjalanan, melainkan teman seperjalanan; bukan untuk menjatuhkan, melainkan mengingatkan; bukan untuk mempermalukan, melainkan menjadi sahabat yang memberi kontribusi terbaik bagi gereja-Nya.

“Sepi Ing Pamrih, Rame Ing Gawe” : Ketika Injil Menyapa Budaya Nusantara

Jika kita alergi terhadap kritik dan koreksi, pepatah lama berkata: “Tak kenal maka tak sayang.” Bukankah dalam setiap relasi yang dilandasi kasih — orangtua dan anak, suami dan istri, sahabat dan saudara — kritik dan koreksi justru menjadi bagian dari rasa peduli dan sayang?

GPIBWATCH lahir dari rahim keluarga besar GPIB. Karena itu, sekat alergi dan phobia terhadap kritik seharusnya dapat diatasi dengan membangun relasi yang sehat dan dewasa.

Sebab gereja tidak pernah menjadi kuat hanya karena banyak pujian. Gereja bertumbuh ketika ada keberanian untuk saling mengingatkan, saling mengoreksi, dan tetap berjalan dalam kasih.

Pada akhirnya, katong pung hati sama — katong pung hati for Tete Manis.

 “Kritik yang lahir dari kasih tidak dimaksudkan untuk melukai, tetapi untuk menjaga.” /ARP/JP

“Biarlah Bulan Bicara Sendiri”