Ekonomi Gereja Opini
Home / Opini / “Biarlah Bulan Bicara Sendiri”

“Biarlah Bulan Bicara Sendiri”

Ketika Efisiensi Masih Berjalan Bersama Rombongan

Lampung, gpibwatch.id — Kehadiran lima orang Fungsionaris Majelis Sinode GPIB XXII — Sekum, Ketua IV, Ketua V, Bendahara dan Bendahara I — bersama lima orang Tim Departemen Inforkom-Litbang di Ibadah Minggu sekaligus Perkenalan Panitia PST GPIB Tahun 2027 di GPIB Jemaat “Marturia” Lampung, 10 Mei 2026, sungguh terlihat luar biasa. Marvelous.

Namun di tengah jargon defisit dan efisiensi anggaran yang terus digaungkan, jemaat tentu bertanya: apakah semangat keugaharian itu benar-benar sedang dihidupkan, atau hanya berhenti sebagai narasi seremonial?

Di saat teknologi digital telah memungkinkan koordinasi dilakukan tanpa harus selalu hadir secara fisik, gereja justru masih terlihat nyaman dengan pola rombongan. Pertanyaannya sederhana: adakah yang keliru? Ataukah efisiensi hanya berlaku sesaat — sebatas slogan tanpa keberanian menjalankan? Biarlah bulan bicara sendiri.

Ketua V MS GPIB XXII, Pnt. Maxy Hayer, dalam sambutannya menyampaikan bahwa PST merupakan wadah pengambilan keputusan para presbiter dalam menentukan kebijakan gereja guna memenuhi panggilan misioner secara sinodal, sekaligus mengelola transisi dan adaptasi organisasi menuju visi GPIB 2046: menjadi gereja yang hidup bagi keadilan, kebenaran, dan pemulihan.

PST Bukan Tempat Datang, Duduk, Foto, Pulang

Panitia PST GPIB 2027 Lampung sendiri bertugas mengorganisasikan dan memastikan kelancaran teknis persidangan agar berjalan tertib dan berdaya guna sesuai ketentuan tata gereja. Panitia juga bertanggung jawab membantu Majelis Sinode dalam pengelolaan sarana-prasarana, memimpin rapat kepanitiaan, menjaga ketertiban penyelenggaraan, serta melaporkan seluruh proses pelaksanaan kepada Majelis Sinode.

Persidangan Sinode Tahunan 2027 tentu membutuhkan kesatuan gerak dan dukungan penuh dari Majelis Sinode. Kehadiran lima orang Fungsionaris MS dan lima orang Tim Departemen Inforkom-Litbang dapat dimaknai sebagai bentuk komitmen bahwa MS mendukung panitia secara menyeluruh.

Namun pertanyaan kritis tetap layak diajukan: mengapa harus sepuluh orang? Dalam situasi yang disebut sedang mengalami defisit anggaran, bukankah cukup dua atau tiga orang hadir sebagai representasi resmi Majelis Sinode?

Apalagi pemanfaatan teknologi digital terus dikampanyekan sebagai instrumen efisiensi koordinasi dan penghematan biaya. Efisiensi tidak lahir dari slogan, tetapi dari keberanian melakukan pengendalian. Sebab penghematan anggaran bukan dibangun melalui rombongan tanpa kalkulasi, melainkan lewat keteladanan dalam membatasi diri./JP

RINCIAN BIAYA MENJADI DOKTER