Apakah pantas disebut kasih,
jika keadilan tak hadir di dalamnya…
Bekasi, gpibwatch.id — MUPEL GPIB Wilayah Bekasi kembali menggelar event sinodal: Hari Ulang Tahun ke-16 Pelkat PKLU GPIB. Ibadah dan perkenalan panitia dilaksanakan di GPIB Jemaat “Anugerah” Bekasi, 19 April 2026. Pdt. Ebser Lalenoh, Sekum GPIB XXII, memimpin ibadah dengan bacaan Kejadian 37:1–11.
Sepintas saya menyalahkan Yakub. Saya marah. Bagaimana mungkin seorang ayah lebih mengasihi satu anak dibanding yang lain? Apakah ini pantas?
Di ayat 3 dikatakan, Israel lebih mengasihi Yusuf. Kalimat itu sederhana, tetapi dampaknya besar. Jika satu disebut “yang dikasihi”, apakah yang lain tidak dikasihi? Bukankah semua anak seharusnya menerima kasih yang sama?
Menurut saya, semua anak harus dikasihi. Semua anak harus diperlakukan setara.Itu adil.
Perhatian yang kecil, perlakuan yang tampak sederhana namun istimewa kepada satu anak, dapat menumbuhkan benih kebencian dalam hati yang lain. Ruben dan saudara-saudaranya melihat semuanya. Mereka menyimpan luka itu. Wajarkah mereka marah? Manusiawi? Namun kemanusiawian tidak selalu berarti pembenaran.
Peristiwa ini menjadi peringatan bagi kita: berhati-hatilah membedakan kasih. Sebab perlakuan yang tidak seimbang dapat menjadi ancaman bagi ikatan persaudaraan.
Saya juga sempat marah pada Yusuf. Di ayat 2d ia digambarkan sebagai pelapor—apa pun yang dilihatnya, ia sampaikan kepada ayahnya. Benar mungkin, tetapi caranya? Sikapnya?
Dalam kehidupan kita, sesuatu yang benar belum tentu diterima dengan hati lapang. Kebenaran yang tidak disampaikan dengan kebijaksanaan bisa melukai. Dan respons terhadap kebenaran pun sering kali diwarnai iri, cemburu, dan luka batin.
Kejadian 37 menampilkan dua hal yang berjalan berdampingan: kasih dan kebencian. Keduanya lahir dari hati manusia yang sama.
Karena itu, dalam pelayanan—termasuk Panitia HUT ke-16 Pelkat PKLU GPIB—yang dibutuhkan Tuhan bukan sekadar kemampuan, melainkan ketulusan hati. Hati yang punya kasih. Hati yang berdiri tegak pada kebenaran, meski kecil dan tersembunyi.
Gereja GPIB dipanggil untuk terus bersaksi, menyatakan maksud Tuhan. Dan Tuhan bekerja melalui orang-orang yang mau menerima tugas dengan rendah hati serta mengerjakannya dengan setia.
Apakah pantas? Apakah adil? Pertanyaan itu bukan hanya untuk Yakub. Itu juga untuk kita—dalam keluarga, dalam jemaat, dalam pelayanan. Soli Deo Gloria. / JP

