Paskah Bukan Seremoni, Melainkan Keberanian untuk Berubah….
Jakarta, gpibwatch — Terang kebangkitan tak pernah pudar. Ia terus menerangi kehidupan kita dalam setiap pergumulan. Dalam perjalanan hidup, Kristus senantiasa hadir, memberi jalan terbaik serta menuntun arah agar kita tidak terjatuh ke dalam lubang yang sama.
Kebangkitan-Nya mengajarkan kita untuk selalu mengoreksi diri. Kita ini fana, tak memiliki apa pun untuk dibanggakan di hadapan Dia yang empunya segalanya.
Sebelum kemuliaan kebangkitan, ada penyiksaan dan salib. Semua itu terjadi untuk melepaskan kita dari penjajahan dan belenggu dosa—dosa yang sering kita banggakan dalam perbuatan, seolah-olah tidak terlihat oleh-Nya. Padahal, di hadapan Tuhan tidak ada ukuran dosa; dosa tetaplah dosa.
Kebangkitan-Nya kembali mengingatkan kita untuk berintrospeksi dan mengendalikan setiap perilaku serta tindakan dalam kehidupan keluarga, pekerjaan, persekutuan, dan pelayanan. Kita diberi tanggung jawab untuk melayani sesama, baik di lingkup jemaat, sinodal, maupun lintas iman, dengan tetap percaya bahwa Allah tidak pernah meninggalkan perbuatan tangan-Nya.
Merayakan Paskah berarti menyampaikan damai dan kasih, saling menolong dan menghadirkan kebaikan, hidup dalam kebenaran serta berlaku adil dalam setiap aspek kehidupan. Kita dipanggil untuk terus memperbarui diri, menjadi manusia yang lebih baik dan berkenan di hadapan-Nya. Laus Deo. /JP

