Mitranya berharap ia mau menggarap Griya Bina Lawang (GBL) di Jawa Timur sehingga bisa maju sama seperti GKS Bandung.
BANDUNG, gpibwatch.id – Apa yang dicapainya kini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Sukses yang ia capai menghadirkan Griya Krida Sekesalam (GKS) seindah mata memandang karena juang dan kerja keras.
Ada banyak penentangan yang dihadapi walau ia datang dengan niat suci menghadirkan Damai Sejahtera bagi sesama terutama gerejanya dan juga masyarakat disekitarnya.
Jalan panjang, terjal dilaluinya hingga bisa menghadirkan GKS sebagus sekarang ini. So pasti, kalau bukan sentuhan profesional darinya dapat dibayangkan GKS tidak akan sebagus kini yang dulunya tampak menyeramkan bagai ruang tak bertuan. Siapakah professional itu?
Dia adalah Edison Ferdinan Pallo, Diaken di GPIB Bethel Bandung yang akrab disapa Sony. Baginya, menjalankan roda bisnis harus dengan kepedulian yang baik dari bisnis yang dijalankan agar nantinya bisnis bisa memberi dampak bagi sesama dan sekitarnya.
Itulah yang dilakukan Sony dan ia berhasil menghantar GKS pada aspek bisnis yang sebenarnya sehingga punya arti bagi sesama dan gerejanya. Tidak sedikit dana yang telah dikeluarkan untuk mencapai sukses itu. Tak heran kalau mitranya berharap ia mau menggarap Griya Bina Lawang (GBL) di Jawa Timur sehingga bisa maju sama seperti GKS Bandung.
Berbagi adalah kata yang tepat disandingkan baginya. Alhasil kalau beberapa usaha yang dijalankannya berhasil meraup cuan yang diinginkan sehingga memberi gain. Ia berharap aset-aset tidur yang dimiliki GPIB bisa dimaksimalkan dan produktif.
”GKS itu salah satu contoh. Aset-aset GPIB yang tidur sebenarnya kalau kita mau terbuka ada banyak hal yang bisa dilakaukan. Aset-aset GPIB yang tidur ini bisa disederhanakan dengan dengan menginventarisasi aset lalu petakan masalahnya, dan analisa secara biaya, bisnis, ekonomi, dan demografi,” kata Sony.
Lakukan feasibility study, hasil dari feasibility study tersebut buat konsep bisnis. Dari konsep bisnis ada beberapa hal yang bisa dilakukan seperti kemitraan, simbiosis mutualisme, sistem BOT, dan sharing profit. Jadi, kebutuhan yang mana, sesuaikan karekteristik dari aset yang akan digarap.
Untuk GKS sendiri, kata Sony, setelah diberi kesempatan Majelis Sinode, kerja pun dilakukan dengan mencari investor untuk membangun GKS. Dana sama sekali bukan bersumber dari Majelis Sinode yang saat itu Majelis Sinode 21 tidak mempunyai uang.
”Kondisinya yang kita tahu belum punya uang yang diakui Majelis Sinode 21. Sehingga internal kami bersama-sama pengurus menggumuli yang akhirnya bisa sampai dititik ini,” tutur Sony.
GKS belum pernah mencapai sesuatu yang “Wah”. Di tahun 2024 omzet GKS itu hampir Rp6 milyar, pada tahun 2025 hampir Rp7 milyar, dan di 2026 diharapkan bisa mencapai Rp8 milyar.
Prospek GKS kedepan kata sony sangat bagus. Polanya sudah terlihat jelas berbanding lurus ketersediaan ruangan dan pelayanan. Hospitality disini berbanding lurus dengan jumlah pendapatan sehingga peningkatan improvement akan bergeser menjadi diversifikasi untuk pengembangan bisnis-bisnis lain seputar Sekesalam.
Ia mencontohnya, tidak menutup kemungkinan karena begitu banyak orang yang masuk keluar bisa dibuka usaha antara jemput, tidak menutup kemungkinan karena GKS mempunyai sumber air yang melimpah bisa menjual air gallon.
Lanjut dikatakan, tidak menutup kemungkinan bahwa tanah kosong yang ada di GKS kita bisa dimanfaatkan untuk mencari mitra berkebun dan hasil kebun digunakan untuk Catering.
”Jadi ada beberapa macam yang bisa dikerjakan karena ada kebutuhan dan ada permintaan, yang berdampak pada perputaran ekonomi. Ini bisa menjadi role model bisnis yang cukup menarik sehingga kalau boleh diberi kesempatan kita butuh keberlangsungan,” lagi kata Sony.
”Izinkan kita untuk membuat aset yang tadinya terbengkalai menjadi aset produktif dan menjadi contoh untuk aset-aset GPIB yang lainnya yang mungkin tertidur. Jadi kami mencoba menggali potensi-potensi bisnis apa yang bisa memungkinkan pendapatan GKS secara omzet bruto meningkat dari tahun ke tahun.”
Optimisme Sony menata GKS menjadi lebih baik adalah bukti konkrit kerja cerdasnya. Ia pun berharap tahun 2028 – 2029 GKS bisa membukukan nilai omzet bisa mencapai Rp10 milyar.
”Harapannya tanah kosong GKS yang di belakang itu betul-betul bukan menjadi tanah yang diam saja, tapi menjadi aset produktif. Kami harapkan GKS ini bisa menjadi contoh untuk bisnis-bisnis yang lain GPIB yang tertidur,” imbuhnya.
Menyikapi sukses yang diraih Sony menata GKS Bandung, tiga orang Pendeta di wilayah Mupel Jabar 1 yakni Pendeta Richard Agung Sutjahjono S.Th, M.Si, Pdt. Frans P. Silitonga, M.Min, dan Pendeta Meity B. Risamena-Simaela, S.Th merespon positif apa yang telah dilakukan profesional Pengurus di GKS yang menjadikan GKS sangat diminati tenant.
Yang pasti aigendom, bukti kepemilikan properti GPIB tersebut sejak dikelola profesional, nilai aset terus meningkat, tidak seperti sebelumnya hanya menjadi beban Sinode GPIB yang harus mengeluarkan dana perawatan yang tidak sedikit. Itupun karyawan setempat harus bolak-balik Bandung – Jakarta untuk mendapatkan dana dimaksud.
Ketua Majelis Jemaat GPIB Bethel Bandung, Pendeta Richard Agung Sutjahjono S.Th, M.Si menyatakan, sangat mengapresiasi melihat keberadaan GKS kini yang dulunya mangkrak seakan tak bertuan. GKS yang dulunya bagai sarang hantu, kini bersinar menghasilkan cuan yang tidak sedikit.
PENGURUS GRIYA KRIDA SEKESALEM MASA BAKTI 2022 – 2027, Dikukuhkan Melalui SK Majelis Sinode GPIB tertanggal 03 April 2023
Ketua : Pnt. Yohanes Elias Salim, GPIB Maranatha Bandung
Bendahara: Dkn. Edison (Sony) Ferdinan Pallo, GPIB Bethel Bandung
Sekretaris: Pnt. Joyce Toleng, GPIB Silih Asih Bandung
Anggota :
Pnt. Budi Situmorang, GPIB Sejahtera Bandung
Rogers Thomas, GPIB Maranatha Bandung


