PELAYANAN SINODAL
Home / PELAYANAN SINODAL / Mutasi yang Selalu Bikin Kisruh di Jemaat

Mutasi yang Selalu Bikin Kisruh di Jemaat

Sekretaris PHM GPIB Wilma Asih Lembang, Dkn. Hilmanta Depari: Menolak

…MS modal kertas mutasi. Segala biaya dari akibat keluarnya SK menjadi tanggung jawab pelepas dan penerima.

JAKARTA, gpibwatch.id – MUTASI, atau alih tugas itu hal yang biasa dalam sebuah organisasi. Alih tugas salah satunya adalah untuk penyegaran tapi bisa juga sebagai sarana edukasi sumber daya manusia (SDM) yang ada untuk lebih jauh mengenal lingkup tugasnya.

Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) dalam fungsinya menjalankan roda kepemimpinan juga rutin melakukan mutasi kepada karyawannya, dalam hal ini Pendeta-pendeta di jemaat. Ada pendeta yang dimutasi karena kebutuhan organisasi, ada pendeta yang mutasi kasus-kasus tertentu, dan ada pendeta yang mutasi karena ada persoalan internal di Jemaat dan ada alih tugas karena studi.

Kebijakan mutasi atau alih tugas terhadap pendeta-pendeta di Jemaat di GPIB yang dilakukan Majelis Sinode seharusnya mempertimbangkan kebutuhan internal Jemaat termasuk kekuatan keuangan jemaat.

Tidak semua jemaat GPIB mampu menerima alias mengongkosi mutasi KMJ-nya atau Pendeta Jemaatnya. Yach, kalau pun sanggup mungkin tertatih-tatih mengumpulkan dana. 

Kisruh Mutasi, Warga Jemaat Marah Menggedor-Gedor Pintu Ingin Ikut SMJ

Seperti yang dialami jemaat GPIB Wisma Asih Lembang (WAL) di Bandung yang hanya memiliki 80 KK tapi dipaksa harus menyanggupi mutasi KMJ Pendeta Adrian Mamahit ke GPIB Bangun Purba Sumut, padahal KMJ tersebut baru menjabat 2 tahun lebih di jemaat itu.

Menyikapi ini, GPIB Watch melakukan investigasi menyeluruh mencari tahu perihal mutasi yang dilakukan MS GPIB terhadap Pendeta Adrian Mamahit.  Secara umum tidak ada persoalan yang terlalu urgent untuk memutasi KMJ dua anak yang masih kecil-kecil itu.

Sekretaris PHM Jemaat GPIB WAL, Diaken Hilmanta Depari, S.Pd mengatakan, Pendeta Adrian Mamahit adalah contoh yang baik di Jemaat WAL dalam kesehariannya berpelayanan.

“Pak Pendeta ini, (Pdt. Adrian Mamahit) menciptakan sebuah tradisi yang baik di Wisma Asih Lembang. Mulai dari pelayanannya, jemaat puas terhadap kinerjanya dan dalam pembangunan gereja,” ungkap Depari.

Dikatakan, mendengar mutasi terhadap KMJ WAL jemaat merasakan kesedihan karena harus berpisah sementara jemaat masih sangat membutuhkan pelayanan Pendeta Mamahit di WAL yang saat ini juga menjabat Ketua Umum PGIS Bandung Barat.

Makar, Iman, dan Kekuasaan

Dipastikan, jemaat WAL akan menolak mutasi Pendeta Adrian Mamahit ke GPIB Bangun Purba Sumut karena baru bekerja 2 tahun lebih di jemaat WAL. Dan kalau MS GPIB tetap melakukan mutasi, pihak WAL akan menolak penempatan KMJ baru.

Seharusnya, kata Depari Majelis Sinode GPIB mempertimbangkan hal tersebut untuk tidak terburu-buru melakukan mutasi terhadap personelnya yang sangat dibutuhkan jemaat dan Lingkup yang lebih luas dalam hal ini PGIS Bandung Barat.

“Ada beberapa program yang mana Pak Pendeta Adrian Mamahit masih ada didalamnya. Kok, ditengah perjalanan pendeta diambil tanpa komunikasi yang baik,” tutur Diaken Depari seraya menyebutkan apa yang dilakukan MS GPIB dadakan.

Seharusnya, kata Depari, ada informasi jauh hari kepada jemaat WAL agar bisa mempersiapkan segalanya atas mutasi tersebut kaitannya dengan kondisi finansial jemaat.

“Kita tidak mungkin mengeluarkan dana (Dana Mutasi) untuk Pak Pendeta. Jemaat menginginkan Pak Pendeta satu periode. lima tahun agar semua terlaksana dengan baik,” tandas Depari menyebutkan pihaknya tidak anti terhadap permutasian.

Usia Boleh Senior, Emosi Jangan Junior

Menurutnya, mutasi ini kayaknya ada hal-hal yang aneh dan janggal.  “Jemaat WAL mendukung Pendeta Adiaan Mamahit untuk satu periode di WAL,” kata Depari.

Catatan redaksi GPIB Watch, ternyata kisruh soal mutasi tidak hanya di GPIB Wisma Asih Lembang tapi juga di GPIB Ora et Labora Banten yang kabarnya presbiter setempat telah mengajukan protes terhadap alih tugas tersebut.

Dilansir Majalah Arcus mengutip platform youtube @brotherjohn6405, netizen berkomentar seraya memprotes kebijakan MS GPIB yang melakukan mutasi-mutasi di jemaat yang mendapat tanggapan netizen di Media Sosial.

Majalah Arcus

Konon kabarnya ada kisruh di GPIB Ora et Labora Banten dan GPIB Wisma Asih Lembang karena mutasi KMJ yg baru 2 tahun lebih. Mutasi itu biayanya gede tuan-tuan MS yg harus utus sambut dan berangkatkan pendeta dll.

Karel Lodewijk Pandy

Jangan korbankan jemaat2 demi untuk kepentingan para yang empunya kuasa, sangat berbahaya…..

Novy Palijama Harus ada kajian terkait fungsi ini – sehingga kepentingan pelayanan yang lebih luas akan benar2 terjaga – dan MS pun tidak terperangkap dalam dilema konsekwensi posisi (sebab akan sangat subjective – depend on siapa yag memberikan pov) , ini problem strategis yang butuh keberanian utk koreksi dan perubahan yg benar2 harus didasarkan pada kajian serius … ini bahkan menyentuh hal paling mendasar terkait sistem presbiterial sinodal, posisi MS dan posisi jemaat dalam konteks perkembangan gereja – tantangan eklesiologis baru dalam melihat GPIB hari- hari ini…. Soli deo Gloria..

Jonner Hutajulu

MS selalu berlindung dalam aturan bahwa mutasi itu hak prerogatif MS dlm rangka pembangunan jemaat. Menjadi pertanyaannya adalah sebegitu urgent kah mutasi harus dilakukan sekarang ini ?

Jonner Hutajulu

Institusi Gereja telah menjadi kepemimpinan gaya otokrasi tidak lagi kepemimpinan presbiterial sinodal. Perlu direnungkan

Rostini Sitorus

Perlu ditinjau kembali hal mutasi KMJ/PJ yang seharusnya 5 tahun ada 1 tahun 6 bulan sudah mutasi. Untuk belajar ‘sehati sepikir’ itu butuh proses… atau setelah ‘sehat sepikir’ segera dimutasi… ‘Happy Sunday🙏😊Tuhan berkati kitorang samua 🙏😇

Tony Sibarani

Mutasi itu penting karena klu tdk ada mutasi kadang kala ada rasa jenuh juga para jemaat demikian juga para hamba Tuhan perlu mutasi dan rotasi.

Lagedero Simanjuntak

Kata kawan saya, MS modal kertas mutasi. Segala biaya dari akibat keluarnya SK menjadi tanggung jawab pelepas dan penerima. 😂😂😂