Pendidikan yang tinggi tidak selalu berbanding lurus dengan kedewasaan sikap…
Jakarta, gpibwatch.id – “Gelar akademik hanyalah bukti bahwa seseorang pernah menempuh pendidikan, tetapi bukan jaminan bahwa ia telah menjadi manusia seutuhnya.
Jika ijazah setinggi langit namun lisan masih penuh caci maki, emosi belum terkelola, dan integritas mudah digadaikan demi kepentingan, maka ada yang keliru dalam proses belajar itu sendiri.
Sebab tujuan akhir pendidikan sejatinya adalah pembentukan karakter, bukan sekadar pengumpulan lembaran kertas. Dunia hari ini tidak kekurangan orang pintar, melainkan sedang merindukan manusia yang memiliki hati, etika, dan harga diri.” Demikian ujar Karlina Supelli.
Dalam praktik kehidupan sehari-hari, realitas semacam ini memang kerap terlihat. Tidak sedikit orang yang begitu bangga pada titel dan strata pendidikan yang dimiliki, namun perlahan kehilangan simpati dan empati, seolah ingin menunjukkan bahwa dirinya paling mengetahui segala hal.
Rasa memiliki terhadap sesama dan lingkungan pun terkadang memudar, tertutup oleh kesombongan intelektual yang tidak selalu diiringi dengan karakter yang santun dan dewasa.
Karakter seseorang justru terlihat ketika berada dalam kehidupan sosial, budaya, organisasi, bahkan dalam lingkup internal sekalipun. Di situlah tampak apakah seseorang mampu menahan diri, mengelola emosi, menerima perbedaan pendapat, dan menghadapi persoalan dengan logika yang sehat. Ironisnya, pendidikan yang tinggi tidak selalu berbanding lurus dengan kedewasaan sikap.
Karena itu, introspeksi diri dan kesadaran akan pentingnya pembangunan karakter menjadi hal yang sangat diperlukan saat ini. Pendidikan seharusnya melahirkan manusia yang bermartabat, bertanggung jawab, serta mampu menjaga etika dan perilaku dalam kehidupan bersama./JP
