Marturia
Home / Marturia / Masih Perlukah Terus Membangun Gereja? Ini Kata Dahlan Iskan

Masih Perlukah Terus Membangun Gereja? Ini Kata Dahlan Iskan

Mereka  berprinsip, jangan-jangan rumah ibadah itu menjadi satu simbol persaingan marketing antar agama.

JAKARTA, gpibwatch.id – Dalam suatu kesempatan Dahlan Iskan mengatakan, doa terbaik adalah membantu orang. Bahkan, kata Menteri BUMN periode 2011–2014 ini dalam video yang diunggah Muhammad Alfianto pembangunan rumah ibadah secara megah hanya menimbulkan persaingan.

“Saya beberapa kali ke Taiwan, di Pantai Timur, saya bertemu Pemimpin Agama Tertinggi disana, Buddha Tzu Chi, di sama diajarkan, agama Tzu Chi tidak boleh mempunyai tempat ibadah,” tutur Dahlan ketika menyampaikan sambutannya di Pondok Pesantren Al-Zaytun.

Menurutnya, Buddha Tzu Chi juga melarang umatnya melakukan sembahyang apapun, tidak ada sembahyang, tidak ada doa, tidak ada rumah ibadah.

“Di Jakarta ini berkembang dan saya menjadi salah satu anggotanya, anggota aktivisnya,” tandas Dahlan.

GILA HORMAT: Kuasa Uang di Balik Jubah Pelayanan

Mereka  berprinsip bahwa jangan-jangan rumah ibadah itu menjadi satu simbol persaingan marketing antar agama, banyak-banyakan rumah ibadah, besar-besaran rumah ibadah, seperti masjid, megah-megahan rumah ibadah. Kalau ada masjid bagus gereja juga bersaing harus bagus. Akhirnya terjadi persaingan rumah ibadah yang mungkin akan menjadi sumber konflik.

Tidak boleh ada sembahyang dan tidak boleh ada doa. Kenapa? Mereka mengatakan bahwa sembahyang terbaik, doa terbaik adalah membantu orang lain.

Jadi, kata Dahlan, Buddha Tzu Chi sangat aktif memberantas kebodohan, sangat aktif di bidang kesehatan, sangat aktif donor organ, dan segala macam.

Di Jakarta mereka menyantuni anak-anak yang  ada di pinggir-pinggir sungai, yang tidak pakai sendal,tidak pakai sepatu, yang baju kumuh dan tidak pakai baju dan dimasukkan dalam satu sekolah dan sekolah itu harus pakai jas dan harus pakai dasi.

Catatan gpibwatch.id, banyaknya rumah-rumah ibadah entah itu masjid maupun gereja harus diikuti dengan gaya hidup umatnya maupun Pemimpin Umat yang terkadang terlihat hedonis. Kebaikan  terlihat dari apa yang diperbuat untuk sesama bukan karena megahnya rumah ibadah.

Adoooh, Ada Apa Yah? Protestan Terus Digempur

Gereja Protestan di Indonesia bagian barat (GPIB), misalnya, telah memiliki gedung gereja 356 di hampir semua provinsi di Indonesia. Masih perlukah lagi menambahnya? Belum lagi Pos-pos pelayanan yang jumlahnya ratusan.

Dalam pembangunan gereja, tidak terjadi begitu saja. Ada panitia yang dibentuk yang harus berjuang, ada proposal pencarian dana yang juga melibatkan warga jemaat yang mungkin saja memberatkan warga jemaat.

Apalah artinya megahnya rumah ibadah tanpa diikuti nilai-nilai kepedulian terhadap orang lain yang membutuhkan.

Minggu II Prapaskah: Ajak Umat Mau Diproses Tuhan…