Opini
Home / Opini / Perempuan Berkelas:”Bukan yang Paling Ribut di Panggung Sinodal”

Perempuan Berkelas:”Bukan yang Paling Ribut di Panggung Sinodal”

Perempuan berkelas tidak menjual diri dalam politik rohani yang dibungkus doa, tidak memaksa diri masuk lingkar kekuasaan, tapi perempuan berkelas tetap teguh menjaga martabat pelayanan—tanpa harus meninggalkan kesederhanaan dan kebenaran...

Makassar, gpibwatch.id – Dalam setiap pemilihan Majelis Sinode, selalu ada yang tampil mencolok—berbicara lantang, berpose percaya diri, dan memoles citra seolah panggilan Tuhan datang lewat baliho dan lobi-lobi kecil di lorong hotel. Tapi di sela hiruk pikuk ambisi, berdiri sosok-sosok perempuan berkelas yang tak perlu banyak berkata. Ia tidak menonjolkan diri, namun kehadirannya menegakkan wibawa.

Perempuan berkelas bukan yang paling sering tampil di foto, melainkan yang paling kuat menjaga integritas. Ia tahu kapan harus maju, dan kapan harus mundur agar pelayanan tetap suci dari aroma kepentingan pribadi.

1. Percaya Diri Tanpa Panggung

Perempuan berkelas tidak butuh tepuk tangan untuk membenarkan panggilan pelayanannya. Ia tahu siapa dirinya di hadapan Tuhan, bukan di hadapan kamera. Ia tidak menebar senyum palsu demi dukungan, sebab keyakinannya berakar dalam panggilan, bukan popularitas.

Antara Politik dan Missio Dei

2. Anggun di Tengah Ambisi

Di ruang rapat yang panas dan ruang bisik-bisik yang dingin, perempuan berkelas tetap anggun. Ia tidak membalas sindiran dengan sindiran, tidak menari dalam pusaran intrik. Ia berdiri tegak, tidak karena ingin terlihat tinggi, tapi karena tidak sudi menunduk pada permainan kecil.

3. Sopan dan Tegas dalam Satu Nafas

Ia bisa berkata dengan halus tanpa kehilangan ketegasan. Perempuan berkelas tahu bahwa sopan santun bukan kelemahan, melainkan kekuatan yang menelanjangi mereka yang kehilangan kesantunan dalam mengejar kursi.

4. Cerdas Membaca Situasi

PST Jakarta, Peserta via Zoom Keluhkan Sulitnya Akses Masuk

Ia tak mudah digiring oleh arus dukungan semu. Ia membaca, menimbang, dan memutuskan dengan kepala dingin. Di balik senyum tenangnya, ada logika tajam yang mampu membedakan antara panggilan dan pencitraan.

5. Ambisius Tapi Tidak Serakah

Ambisinya bukan untuk merebut posisi, tapi memperluas dampak pelayanan. Ia tahu jabatan adalah alat, bukan tujuan. Perempuan berkelas tidak menjual diri dalam politik rohani yang dibungkus doa.

6. Terbuka Tapi Tidak Lengah

Ia mau mendengar gagasan baru, tapi tak mudah dipengaruhi oleh mereka yang berselimut kepentingan. Ia tahu, tidak semua yang tersenyum itu tulus, dan tidak semua yang diam itu kalah.

Menutup Buku Lama, Membuka Lembaran Baru dalam Terang Kasih

7. Rendah Hati, Tapi Tak Bisa Diremehkan

Perempuan berkelas tahu caranya menunduk tanpa kehilangan wibawa. Ia tak perlu menjatuhkan orang lain untuk terlihat tinggi, sebab integritasnya sudah cukup meninggikan.

Penutup

Dalam pemilihan Majelis Sinode, banyak yang ingin terlihat berpengaruh, tapi hanya sedikit yang benar-benar berkelas. Perempuan berkelas bukan yang memaksa diri masuk lingkar kekuasaan, tapi yang tetap teguh menjaga martabat pelayanan—tanpa harus meninggalkan kesederhanaan dan kebenaran. Karena ketika sorak-sorai sinodal berakhir, hanya satu hal yang akan tetap berbicara,  kelas tidak bisa dipilih lewat voting—kelas dibentuk oleh sikap, dibuktikan lewat karakter.

Secangkir kopi pahit menemaniku menjelang senja di pantai losari dengan angin mamiri dan pikiranku berselancar menembus tirai menghasilkan tulisan untuk para kaum matriarki. Makassar Pung Carita-JP  

Related Posts

Berita Populer

01

Pdt. Nitis Harsono: “Tenang, Iblis Bermain Senang”

02

Tuli Mendadak, Tradisi Sejak Dini di Jabatan Fungsionaris

03

Ketok Magic Pendeta, Menggunakan Ayat Kolusi dan Ayat Nepotisme

04

Polling Aspirasi, Membentuk Demokratisasi di GPIB

05

Sang Raja, Sang Ratu di Jemaat

Ragam Berita





Sang Raja, Sang Ratu di Jemaat