Kiranya GPIB kali ini dipimpin oleh orang-orang — bukan pemain peran rohani, tapi hamba sejati. Sebab Tuhan tidak pernah salah pilih… yang sering salah justru kita, yang merasa lebih tahu dari Tuhan….
Makassar, gpibwatch.id – Kopi Rohani paling syahdu dan menggigit, menggoda hasrat, bersinergi dengan Kopi Jasmani – sama-sama punya kepentingan.
Menjelang pemilihan Majelis Sinode GPIB lima tahun ke depan, semua orang tampak semakin rohani. Doa-doa mengalun, ayat-ayat dikutip, bahkan senyum pun makin manis — seolah surga sedang menurunkan malaikat untuk kampanye.
Namun di balik semua itu, Tuhan tentu tahu isi hati kita: siapa yang sungguh mau melayani, dan siapa yang sekadar ingin dilayani.
Kita sering berkata, “Biarlah Tuhan yang memilih,” tapi diam-diam kita sudah menyiapkan daftar nama, strategi, dan janji-janji yang tak jauh beda dengan politik dunia. Kita menyebutnya pelayanan, tapi baunya… agak mirip lobi.
Padahal Rasul Paulus sudah jelas: “Tidak ada pemerintah yang tidak berasal dari Allah” (Roma 13:1). Tapi sepertinya ada yang menambahkan ayat baru: “Asal disetujui kelompokku, maka itulah kehendak Tuhan.”Pemimpin yang Tuhan pakai bukanlah yang paling pintar berargumen, atau paling sering tampil di panggung. Ia adalah yang berani diam di hadapan Tuhan, jujur di hadapan diri sendiri, dan bersih dari ambisi yang disamarkan sebagai panggilan.
Kiranya GPIB kali ini sungguh dipimpin oleh orang-orang seperti itu — bukan pemain peran rohani, tapi hamba sejati. Sebab Tuhan tidak pernah salah pilih… yang sering salah justru kita, yang merasa lebih tahu dari Tuhan.
Kopi tak pernah berkhianat — tetaplah rasa kopi. Tapi di musim pemilihan, hanya kopi beraroma integritas yang benar-benar dicari. Disadur dari Facebook Nicodemus Boenga — Makassar Pung Carita- Ewako / JP

