Opini
Home / Opini / Sudah Pas-Kah Pelayanan Kita Ber-GPIB?

Sudah Pas-Kah Pelayanan Kita Ber-GPIB?

“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.” — Filipi 2:5

Surabaya, gpibwatch.id — Sudah pas-kah pikiran kita dengan pikiran Kristus yang selalu mendahulukan kehendak Bapa daripada kepentingan diri-Nya?

Sudah pas-kah perkataan kita dengan perkataan Kristus yang berusaha memberi motivasi, menguatkan, menghibur, dan membahagiakan—alih-alih menghina, mematahkan semangat, dan mengutuk?

Sudah pas-kah perilaku hidup kita dengan perilaku Kristus yang berpihak pada mereka yang kalah, lemah, tak berdaya, dan tertindas, serta berani melawan ketamakan, narsisme, dan keangkuhan?

Kini kembali kepada diri kita sendiri: menilai, mengintrospeksi, dan mengoreksi. Sudahkah kita mengatasi pikiran-pikiran negatif yang bergelindan dan mengganggu kejernihan batin, mengganggu sirkulasi sistemik dalam tubuh, sehingga kita tidak mampu berpikir sehat dan bertindak demi kemaslahatan umat?

GPIB di Bawah Terang Validasi Kebangkitan

Pertanyaannya sederhana namun mendalam: mampukah kita melakukan seperti yang diperintahkan Sang Ilahi? Mampukah kita melaksanakan kehendak-Nya, hidup dekat dengan-Nya, sehingga segala yang kita kerjakan sungguh berada dalam tuntunan Roh Kudus?

Sekarang kembali kepada kita: maukah kita menjalankan kehendak-Nya tanpa pamrih, tanpa mengeluh atas berat-ringannya persoalan, sehingga terang kebangkitan-Nya—resurrection—senantiasa hadir dan terwujud dalam setiap perilaku, tindakan, pelayanan, persekutuan, dan kesaksian?

Ini pun menjadi kritik bagi diri kita dalam konteks pelayanan ber-GPIB. Sudah pas-kah seluruh dinamika berorganisasi kita? Sudahkah kita sekadar mengikuti algoritma tata gereja, atau sungguh menghidupi roh dari tata kelola pelayanan yang telah terpatri?

Hanya komitmen, konsistensi, dan kesadaran akan keterpanggilan yang mampu menjawab keluhan batin: “Sudah Pas-Kah?”

Introspeksi diri adalah jawaban sejati, agar terang Paskah sungguh hadir—memancarkan suara kebenaran, menghadirkan keadilan, serta membawa pemulihan dan pengampunan bagi dunia. Paragraf pembuka dikutip dari Pdt.Domidoyo Ratupenu, dilanjutkan dengan refleksi oleh JP.

Menghidupi Sang Bangkit

Related Posts

Latest Posts