Jika kita perhatikan sikap Yunus dan kita sekarang ini, maka sebenarnya kita sama saja. Kita hanya memilih-milih kepada siapa kita peduli, kepada siapa kita mengasihi….
Surabaya, gpibwatch.id – Cerita dalam kitab Yunus sangat familiar bagi umat Kristen. Dari anak-anak sampai oma-opa sangat hafal jalan cerita kitab ini. Namun demikian kita coba untuk melihat ulang bagian kecil 1:1-6 dari kitab ini.
Ketika Yunus memutuskan untuk menghindar dari tanggungjawabnya untuk memberitakan keharusan umat Niniwe untuk bertobat, ia melarikan diri ke Tarsis. Suatu daerah yang jauhnya 4000 km dari Yope ke sebelah utara, padahal Niniwe letaknya hanya 800 km ke sebelah selatan dari Yope.
Ada perbedaan jarak yang sangat jauh ke Tarsis jika dibanding ke Niniwe, yaitu 3200 km. Sangat jauh. Ia malah rela mengeluarkan biaya sendiri untuk lari dari tanggungjawab. Bahkan, ketika kapal yang ditumpangi mengalami masalah karena angin ribut yang mengakibatkan badai, Yunus tidak peduli. Ini ditunjukan dalam cerita, bahwa Yunus tidur nyenyak.
Ini membuat kapten kapal bingung bagaimana Yunus bisa tidur senyenyak itu. Kapten kapal meminta Yunus bangun dan berdoa pada Allahnya, sebab pikir kapten kapal, dengan berdoa pada Allahnya barangkali Allah akan menjawab doa Yunus. Suatu permintaan yang bisa kita lihat sebagai sindiran yang menohok pada Yunus.
Pertanyaan penting kenapa Yunus menghindar dari tanggungjawab itu? Pada pasal lain kita akan melihat bahwa ia lari dari tanggungjawab karena ia tidak mau orang-orang Niniwe selamat. Pasalnya karena Yunus tahu bahwa Allahnya itu penuh kasih, dan karena itu jika diberitakan bahwa kota Niniwe akan ditungganglanggangi Allah karena kejahatan mereka, pastilah orang Niniwe bertobat maka Allah akan mengampuni mereka.
Yunus tidak bisa terima kebaikan Allah ini. Bagi Yunus, orang Niniwe harus dibumi hanguskan. Tidak bisa tidak. Apa lagi, Niniwe bukan siapa-siapa. Niniwe kota di Mesopotamia, dan karena itu bukan Israel. Orang-orang di dalamnya bukan umat Israel, karena itu harus dihabiskan. Cara penghayatan macam ini yang membuat Yunus merasa tidak perlu ada tanggungjawab pada Niniwe. Mereka harus dihabiskan. Yunus tidak perlu peduli pada mereka. Titik.Melihat motivasi Yunus lari dari tanggungjawabnya, jangan-jangan ada juga pada kita. Ada begitu banyak orang yang tidak peduli pada orang lain, hanya karena mereka bukan sealiran, sekelompok, seagama, seideologi dengan mereka. Kita hanya peduli pada orang-orang yang sepaham dan sealiran dengan kita.
Kalo bukan orang dalam, maka mereka orang luar, karena itu bukan urusan kita pada mereka. Tidak perlu kita merasa bertanggungjawab pada nasip hidup mereka. Jangan heran kalo kita misalnya, hanya peduli pada anggota gereja kita, dan ogah serta tidak merasa terusik sedikit pun dengan nasip hidup orang lain.
Tidak heran misalnya jika ada begitu banyak orang yang menggerutu melihat bagaimana seorang Menteri yang akan memberikan uang kolekte perayaan Natal kepada Palestina, ketimbang memberinya pada orang dalam, sebagian orang di negara sendiri. Pikirkan orang dalam dulu, baru setelah itu kita pikirkan orang lain.
Jika kita perhatikan sikap Yunus dan kita sekarang ini, maka sebenarnya kita sama saja. Kita hanya memilih-milih kepada siapa kita peduli, kepada siapa kita mengasihi. Pertanyaan penting yang bisa kita ajukan pada sikap seperti itu adalah apakah kasih itu ada batasnya? Jika kasih ada batasnya, bukankah sebenarnya kasih yang semacam itu bukan kasih lagi.
Ketika kita mengasihi sebagian orang dan tidak mengasihi yang lain, bukankah itu bukan kasih lagi namanya? Allah yang memerintahkan Yunus bukanlah Allah yang mengasihi berbatas. Allah yang mengasihi berbatas bukanlah Allah yang Mahakasih. Bukan Allah yang mengasihi.
Allah adalah Allah yang mengasihi tanpa batas. Allah yang semacam itulah yang ditentang oleh Yunus. Bagi Yunus, kasih Allah harus berbatas seperti dirinya. Allah haruslah hanya mengasihi kelompok Yunus, bangsa Yunus. Tidak boleh yang lain. Allah dibatasi oleh kemauan Yunus.Ketika Allah tidak bisa dibatasi olehnya, ia lari dari tanggungjawabnya untuk menyampaikan berita penghukuman pada Niniwe. Ia lari dari tanggungjawab untuk keselamatan orang lain. Bagi Yunus hanya kelompoknya saja yang boleh selamat. Orang lain tidak.
Pertanyaan buat kita sebagai gereja/orang Kristen sekarang ini, setelah suksesi, adalah apakah sikap kita masih seperti Yunus? Jika jawabnya ya, maka apa yang harus kita perbuat agar sikap kita sejalan dengan sikap Allah? Tulisan ini merupakan refleksi teologis dan tidak ditujukan untuk menyudutkan individu atau kelompok mana pun. Ewako-mappakoe@gpibwatch.id /DR/Jp

