Refleksi di Tengah Gelombang Pelayanan
Jakarta, gpibwatch.id — Dalam perjalanan pelayanan yang tidak selalu tenang, ada musim ketika ombak terasa lebih kuat daripada dayung yang kita genggam. Pasca peristiwa, pasca suksesi, pasca dinamika—jiwa kadang lelah oleh percakapan yang tak pernah benar-benar selesai. Namun di tengah riuh yang tersisa, Tuhan tetap menghadirkan malam yang teduh, seakan berkata: berhentilah sejenak, dan pandanglah ke atas.
Saat bulan bersinar di lautan, terlihat begitu indah. Cahayanya keemasan, meliuk-liuk, digoyang ombak di lautan luas. Seperti pelayanan yang diterpa gelombang, cahaya itu tidak padam — ia justru menari di atas permukaan yang bergerak.
Bulan — membuat bayangan manusia menari-nari di kegelapan, di malam nan sunyi. Di sana kita belajar, bahwa terang tidak selalu mengusir ombak, tetapi cukup untuk memberi arah.
Dan saatnya aku merenung kembali akan hidupku—akan kesehatanku yang tak lagi sekuat dahulu. Memasuki kerentaan, aku tidak pasrah dan tidak goyah sedikit pun. Aku tetap berdiri teguh, karena Sang Pencipta ada di sampingku, menguatkan setiap langkahku.
Jari-jemariku tak pernah lepas dari cahaya layar yang menjadi pena zaman ini, yang terus menyalakan ilham dan inspirasi, hingga lahir narasi-narasi yang indah bagi kemuliaan-Nya.
Sungguh elok ciptaan-Mu, ya Tuhan. Betapa baik dan mulia Engkau yang telah menciptakan bulan. Bulan akan terus ada, memberikan terangnya—terang Ilahi yang tak dapat dihitung oleh matematika, tak dapat diukur oleh nalar manusia.
Kitalah yang kelak meninggalkan bulan, sementara waktu berjalan dengan caranya sendiri. Dan mereka yang menghargai bulan serta menghormati waktu, akan menemukan gagasan yang cemerlang, ide-ide kreatif untuk memetaforakan dan mengisahkan kehidupan dalam bahasa yang puitis.
Sebab ada rahasia Ilahi yang tak pernah sepenuhnya dapat kita selami; maka selama kita masih mampu berselancar di atas gelombang kehidupan, berselancarlah dalam kasih-Nya. /JP/LPR

