Boneka etalase gereja, cantik di luar, kosong di dalam, bergerak bukan karena Roh, melainkan karena tali kepentingan yang menariknya…..
Jakarta, gpibwatch.id – Dalam lagu Scarlet Ribbons, seorang ayah hanya bisa menangis karena tak mampu memenuhi doa sederhana putrinya. Namun keajaiban datang, pita merah itu tiba-tiba muncul—bukan dari tangan manusia, melainkan dari ruang misteri kasih Tuhan.
Kontras dengan itu, dalam pemilihan Majelis Sinode, pita-pita yang muncul bukanlah hasil doa, melainkan hasil dagang. Jemaat berdoa agar gereja dipimpin oleh gembala sejati, tetapi yang muncul justru pita-pita murahan hasil lobi dan transaksi. Bukan “scarlet ribbons” dari surga, melainkan pita plastik dari pasar politik.
Lalu muncullah figur-figur yang dihias rapi, dipoles wajahnya, dipajang seakan-akan jawaban doa jemaat. Tapi sesungguhnya, itu bukan pemimpin yang lahir dari pergumulan iman, melainkan boneka etalase gereja, cantik di luar, kosong di dalam, bergerak bukan karena Roh, melainkan karena tali kepentingan yang menariknya.
Di titik ini kita harus bertanya, apakah gereja masih berharap pada keajaiban Tuhan, atau justru puas dengan boneka berpita yang sudah dikemas oleh strategi dan sponsor? Apakah kita menanti pemimpin yang hadir dari doa jemaat, atau sekadar menerima hasil rekayasa politik internal?
Jika lagu Scarlet Ribbons adalah nyanyian tentang kasih tulus dan jawaban doa, maka pemilihan Majelis Sinode bisa saja menjadi nyanyian lain. Plastic Ribbons and Church Puppets – pita imitasi dan boneka etalase, yang sekilas indah, tapi rapuh, palsu, dan jauh dari misteri kasih Tuhan. ewako-mappakoe@gpibwatch.id /JP

