Namun harus diakui, setiap pesta suksesi selalu menghadirkan aroma yang beragam — ada wangi, ada busuk, ada yang menari indah di atas panggung diplomasi, ada pula yang berselancar di atas gelombang ambisi….
Jakarta, gpibwatch.id – Berbicara tentang barikade dalam kontestasi pemilihan Majelis Sinode, tak sekadar soal dukungan dan suara. Ada tembok konservatisme, kebiasaan konvensional, dan pola tradisional yang telah lama berakar dan beradiks di tubuh organisasi. Untuk menembusnya, dibutuhkan perjuangan yang tangguh dan stamina pelayanan yang ekstra prima.
Bagi para kandidat yang tidak termasuk dalam lingkar konservatif, tantangannya bukan kecil. Diperlukan pendekatan yang inklusif, menjalin tali persaudaraan lintas unsur dan entitas, serta menampilkan karakteristik kepemimpinan yang berintegritas dan berdaya pikat spiritual.
Dalam Polling Aspirasi GPIBWATCH untuk posisi Ketua III MS.GPIB periode 2025–2030, muncul nama-nama dengan latar belakang dan disiplin ilmu yang relatif seimbang—semuanya unggul, semuanya hebat. Namun memimpin lembaga rohani sebesar GPIB tak hanya ditentukan oleh pendidikan formal; ada faktor kepemimpinan, kecakapan manajerial, dan kemampuan mengelola sumber daya insani secara bijak dan visioner.
Dari total 252 voters, hasil jajak pendapat menempatkan: Pdt. Stephen GR. Sihombing – 116 suara , Pdt. Sarah Hengkesa – 101 suara, Pdt. Nancy Nisapih-Rehatta – 23 suara, Pdt. I Nyoman Jepun – 12 suaraHasil ini memang bukan keputusan resmi, namun cukup memberi gambaran arah aspirasi para utusan menjelang Persidangan Sinode Raya XXII di Makassar.
Tantangan terbesar bagi Pdt. Sihombing bukan semata memperoleh suara mayoritas, melainkan menembus barikade konservatif yang selama ini terpelihara rapi dan sulit ditembus. Namun pengalaman beliau di Bidang I – TPG, dengan rekam jejak pelayanan yang konsisten dan terbuka, menjadi modal kuat untuk memimpin Bidang PPSDI dan PPK (Bidang IV MS.GPIB).
Jika nantinya dipercaya sebagai Ketua III, Pdt. Sihombing telah merancang beberapa langkah strategis:
- Melibatkan pendeta, penatua, dan diaken sebagai narabina profesional dalam pembinaan fungsionaris pelayanan.
- Menghadirkan pelatihan daring (online) yang terjangkau, agar setiap pelayan dapat belajar tanpa batas.
- Membuka akses studi dan beasiswa bagi pendeta serta warga jemaat, demi peningkatan mutu pelayanan.
- Mengembangkan modul dan metode pembinaan yang kreatif dan menarik bagi seluruh kelompok kategorial — anak, teruna, pemuda, bapak, ibu, hingga lansia.
Namun harus diakui, setiap pesta suksesi selalu menghadirkan aroma yang beragam — ada wangi, ada busuk, ada yang menari indah di atas panggung diplomasi, ada pula yang berselancar di atas gelombang ambisi. Dalam pusaran itu, Pdt. Sihombing ditantang untuk tetap jernih dan fokus, menyerahkan seluruh langkah pada tangan Tuhan yang bekerja di balik segala rencana manusia.
Sebab pada akhirnya, pemilihan bukan sekadar kompetisi politik gerejawi, melainkan ujian kerendahan hati untuk melayani dengan hati. ewako-mappakoe@gpibwatch.id / JP

