Opini
Home / Opini / Pdt. Jan Jona Lumanauw: “Gereja Menjadi Tangan Tuhan yang Menolong”

Pdt. Jan Jona Lumanauw: “Gereja Menjadi Tangan Tuhan yang Menolong”

“Gereja yang hidup adalah gereja yang melayani”

Jakarta, gpibwatch.id – Pdt. Jan Jona Lumanauw, lahir di Tomohon, Sulawesi Utara, telah mengabdikan hidupnya untuk pelayanan gereja selama lebih dari 35 tahun. Sejak ditahbiskan sebagai pendeta pada 1990 di GPIB Immanuel Tarakan, ia memaknai hidupnya sebagai persembahan hidup untuk Tuhan dan sesama.

Perjalanan Pelayanan yang Konsisten dan Berdampak

Perjalanan pelayanan Pdt. Jan Jona dimulai di GPIB Maranatha Lampung (1990–1994), di mana ia berfokus pada aksi diakonia di tengah masyarakat yang majemuk. Setelah itu, ia melayani di Jakarta, pertama di GPIB Kharis Pulo Gebang (1994–2000), di mana ia menjadikan gereja sebagai tempat perlindungan saat krisis ekonomi dan kerusuhan melanda. Ia menegaskan bahwa gereja harus hadir bukan hanya untuk yang sudah percaya, tetapi juga untuk mereka yang terpinggirkan.

Pindah ke Belawan, Sumatera Utara (2003–2008), Pdt. Jan Jona memimpin gereja saat bencana tsunami Aceh 2004. Pengalaman ini menginspirasinya untuk mengembangkan diakonia transformatif, yakni pelayanan yang tidak hanya memberi bantuan sesaat, tetapi juga memberdayakan dan memulihkan martabat manusia.

Menutup Buku Lama, Membuka Lembaran Baru dalam Terang Kasih

Gereja yang Melayani: Iman yang Berdampak

Di Bandung (2008–2011) dan Jakarta Utara (2011–2015), Pdt. Jan Jona semakin menekankan pentingnya gereja yang melayani keluar, bukan hanya menerima. Ia aktif memperkuat pelayanan kategorial dan mendukung aksi sosial, termasuk tanggap darurat banjir rob di Jakarta Utara. Pada masa pelayanannya, ia banyak menggerakkan program-program bakti sosial dan pemberdayaan masyarakat, serta menjadi panitia dalam aksi sosial lintas gereja.

Pelayanan Digital dan Inovasi

Dalam era digital, Pdt. Jan Jona juga menunjukkan kreativitasnya. Sejak 2020, ia memproduksi lebih dari 1.900 episode renungan singkat di YouTube, menjangkau jemaat secara luas, bahkan di masa pandemi COVID-19. Ia dikenal sebagai pemimpin yang adaptif dan proaktif dalam menggunakan teknologi untuk pelayanan.

Menyongsong PSR XXII Makassar 2025

PST Jakarta Harus Tegas, Kasus Keuangan FMS XXI Harus Ada Sanksi

Kini, Pdt. Jan Jona melayani di GPIB Gideon Depok dan menjabat sebagai Ketua I Mupel Jawa Barat II. Menyongsong PSR XXII GPIB di Makassar 2025, ia dicalonkan sebagai Ketua I Majelis Sinode GPIB. Selama pelayanannya, ia tetap teguh pada prinsip: “Gereja yang hidup adalah gereja yang melayani”. Baginya, pelayanan sosial adalah bagian tak terpisahkan dari pelayanan rohani.

Pdt. Jan Jona Lumanauw adalah contoh pemimpin yang tak hanya berbicara, tetapi menjalani apa yang ia yakini. Dengan dedikasi dan visi misi yang holistik, ia siap membawa gereja semakin relevan di zaman kini. JP/fsp

Related Posts

Berita Populer

01

Pdt. Nitis Harsono: “Tenang, Iblis Bermain Senang”

02

Tuli Mendadak, Tradisi Sejak Dini di Jabatan Fungsionaris

03

Ketok Magic Pendeta, Menggunakan Ayat Kolusi dan Ayat Nepotisme

04

Polling Aspirasi, Membentuk Demokratisasi di GPIB

05

Sang Raja, Sang Ratu di Jemaat

Ragam Berita





Sang Raja, Sang Ratu di Jemaat