Kita berbeda—namun kita mau melangkah bersama, membangun persekutuan dan pelayanan yang lebih baik, lebih dewasa, dan sanggup merayakan perbedaan sebagai anugerah…
Jakarta, gpibwatch.id — Menjadi garam dunia di tengah pelayanan GPIB bukan soal tampil menonjol, tetapi hadir memberi rasa yang menegakkan kebenaran. Garam itu diam, namun kehadirannya mengubah segalanya—itulah panggilan kita setelah suksesi, ketika setiap langkah menuntut kesetiaan pada integritas, bukan pada kalkulasi.
Di tengah suara-suara yang saling bersilang, garam memilih tetap jernih: menjaga kemurnian hati, merawat persatuan, dan menghadirkan rasa yang menghidupkan pelayanan.Garam tak mungkin menjadi tawar ketika kita mengelolanya dengan hati yang jujur. Ia memberi dampak yang menyehatkan dalam dunia pelayanan dan persekutuan. Garam juga menantang kita untuk melangkah dalam kejujuran, terutama ketika menata arah kebijakan persekutuan sinodal yang penuh dengan beragam persepsi yang harus didengar, dihargai, dan ditimbang.
Adakah rasa garam di GPIB? Inilah pertanyaan yang menggelisahkan hati. Adakah rasa damai yang memulihkan? Adakah rasa aman untuk berbeda pendapat? Adakah penghargaan bagi suara yang menyampaikan pandangan di tengah arus yang kerap buta-tuli?
Sementara di sisi lain, ada kelompok yang membeku, enggan bersuara, takut menyatakan kebenaran, takut mengatakan bahwa sebuah kebijakan mungkin tidak tepat?
Semua ini menjadi pekerjaan rumah bagi Majelis Sinode GPIB – XXII: berani berkata, “Kita berbeda—namun kita mau melangkah bersama,” membangun persekutuan dan pelayanan yang lebih baik, lebih dewasa, dan sanggup merayakan perbedaan sebagai anugerah.Di tengah arus global, derasnya informasi, dan teknologi digital yang tak terbendung—dengan ragam opini yang membangun maupun yang merusak—GPIB dipanggil untuk tetap hadir sebagai garam dan terang bagi dunia, bagi 356 jemaatnya di 26 provinsi. Dan kepastian itu sungguh dinantikan. Adakah rasa garam itu? ewako-mappakoe@gpibwatch.id / JP

