Opini
Home / Opini / Parcel, Kuasa, dan Hati yang Terbalik

Parcel, Kuasa, dan Hati yang Terbalik

Kepada mereka yang seharusnya kita santuni, kita justru menjadi sangat pelit. Kepada mereka yang berkelimpahan harta, kita malah menjadi sangat royal….

Bila ingin mengukur kebaikan seseorang, lihatlah bagaimana ia memperlakukan orang-orang yang tidak memberi keuntungan apa pun baginya.

Jakarta, gpibwatch.idAda ironi yang kerap kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari.    Ketika orang miskin masuk ke toko parcel, ia meminta dibuatkan parcel yang bagus dan mahal—karena itu akan dihadiahkan kepada atasannya. Namun ketika orang yang sangat kaya berbelanja di toko yang sama, ia justru meminta parcel yang paling murah—karena itu akan diberikan kepada para karyawan bawahannya.

Pertanyaannya sederhana, tetapi mengguncang: Siapa yang sesungguhnya miskin? Siapa yang benar-benar kaya? Dan siapa yang lebih baik? Jawabannya seolah tidak perlu dibahas lebih jauh.Begitulah manusia. Cara berpikir kita sering terbalik-balik.

Kepada mereka yang seharusnya kita santuni, kita justru menjadi sangat pelit. Kepada mereka yang berkelimpahan harta, kita malah menjadi sangat royal. Kepada orang-orang yang lemah dan berada di bawah—yang seharusnya kita perlakukan dengan lemah lembut—kita justru kasar dalam kata dan sikap. Sebaliknya, kepada mereka yang seharusnya ditegur karena kesombongan dan kejahatannya, kita malah bersikap sangat hormat.

Kepada orang-orang yang setiap hari makan mewah, kita mengundang mereka dalam pesta dengan suguhan yang melimpah. Namun kepada mereka yang hari ini masih bisa makan dan esok belum tentu, kita sering hanya memberi sisa—yang bahkan kita sendiri sudah enggan menyentuhnya.

Antara Politik dan Missio Dei

Padahal, bila ingin mengukur kebaikan seseorang, lihatlah bagaimana ia memperlakukan orang-orang yang tidak memberi keuntungan apa pun baginya. Sayangnya, dalam kehidupan kekinian, sikap yang terbalik ini kerap dipelihara dengan sadar—demi kedudukan, jabatan, dan pengaruh. Segala cara ditempuh.

Dalam dunia pekerjaan, etika balas jasa seolah tidak pernah berakhir. Relasi dibangun bukan demi integritas, melainkan demi kepentingan. Hidup dijalani untuk mengejar kepuasan fana yang tak pernah merasa cukup.

Parcel pun kehilangan makna—bukan lagi tanda kasih, melainkan alat pendekatan, bahkan investasi dengan harapan imbal balik.

Kepercayaan yang diberikan untuk mengemban tugas dan tanggung jawab, bila salah kelola, sering berujung tragis—berakhir di hotel prodeo akibat korupsi.

Yang lebih memprihatinkan, pola yang sama terkadang merembes ke dalam ruang pelayanan. Ada yang bersikap manis kepada atasan rohani demi disenangi, dengan harapan memperoleh mimbar, tugas pelayanan, atau posisi tertentu. Dan ada pula pemimpin atau hamba Tuhan yang memilih menutup mata terhadap perilaku tidak etis rekan sepelayanan—karena ikut menikmati “parcel” yang sama.

PST Jakarta, Peserta via Zoom Keluhkan Sulitnya Akses Masuk

Menjadi sangat miris ketika dana untuk parcel, pesta, atau acara open house ternyata berasal dari perbuatan tercela—mengambil yang bukan haknya – Korupsi. Dan ini bukan sekadar cerita di luar sana; kadang ia terjadi di sekitar kita. Di acara-acara besar, tanpa rasa malu, harta dipamerkan. Kendaraan berganti-ganti. Semua tampak wajar—padahal sumbernya gelap.

Di sinilah pertanyaan iman menjadi sangat personal: Apakah kita sedang memberi dengan kasih, atau sedang membeli pengaruh? Apakah kita melayani dengan tulus, atau menukar integritas dengan kenyamanan?

Pada akhirnya, Tuhan tidak bertanya kepada siapa kita memberi hadiah, melainkan bagaimana kita memperlakukan sesama—terutama mereka yang kecil, lemah, dan tak memberi keuntungan apa pun bagi kita. Catatan: Diolah dari pesan digital dan refleksi pribadi. ewako-mappakoe@gpibwatch.id / JP

Related Posts

Berita Populer

01

Pdt. Nitis Harsono: “Tenang, Iblis Bermain Senang”

02

Tuli Mendadak, Tradisi Sejak Dini di Jabatan Fungsionaris

03

Ketok Magic Pendeta, Menggunakan Ayat Kolusi dan Ayat Nepotisme

04

Polling Aspirasi, Membentuk Demokratisasi di GPIB

05

Sang Raja, Sang Ratu di Jemaat

Ragam Berita





Sang Raja, Sang Ratu di Jemaat