Opini
Home / Opini / Narasi Cinta di Ujung Usia

Narasi Cinta di Ujung Usia

Tentang Ingatan, Kesetiaan, dan Tahun Rahmat Tuhan

Jakarta, gpibwatch.id — Tidak semua lanjut usia dianugerahi keluasan wawasan, kemampuan berpikir jauh ke depan, dan kepekaan rasa yang terus hidup. Tidak semua mampu menulis makna dari apa yang dipikirkan, lalu mengolah dan mempresentasikan nalarnya dalam bentuk puisi —yang kaya tafsir dan menyentuh batin banyak orang.

Namun ada lansia yang tetap setia menggunakan pikirannya untuk berkarya, tidak berhenti berbuat bagi kemaslahatan banyak orang, khususnya di lingkaran pelayanan yang dicintainya. Ia tidak memilih diam. Justru dalam permenungan dirinya, lahir ide-ide brilian yang menjelma menjadi tulisan — puisi yang menyentuh rasa dan naluri siapa pun yang membaca dan mendengarnya. “Beliau adalah Ibu Loes Palar, PKLU GPIB Jemaat “Nazareth” Jakarta Timur.”

Sebagai lanjut usia, tentu secara fisik dan mental beliau tidak lagi sekuat empat atau lima puluh tahun lalu. Namun patut diapresiasi: di penghujung tahun 2025, menjelang memasuki tahun baru 2026, beliau mampu menuliskan kisah perjalanan hidupnya secara singkat, jernih, dan sistematis — tentang apa yang dirasakan dan dijalani sejak tahun 1960 hingga 2025.

Dengan jari-jari yang tak lagi secekatan dulu, beliau mengetik di atas laptop dan ponsel, menembus keterbatasan usia. Hingga akhirnya, di malam pergantian tahun, 31 Desember 2025, dari memori yang masih terasah dan segar, lahirlah rangkaian ingatan: narasi cinta yang indah —tentang hidup pribadi dan keluarga.

Marah Itu Mahal, Tenang Itu Gratis

Tahun 1960, tahun yang dinantikan dengan sukacita. Baju baru berenda, sepatu hak tinggi yang baru. Hati berdebar, harap-harap cemas: akankah dia melirikku di pesta nanti?

Tahun 1970, bermalam tahun baru bersama kekasih hati. Ibadah akhir tahun di gereja, sekaligus pengakuan diam-diam: aku telah memiliki pendamping hidup.

Tahun 1980, menyambut tahun baru bersama buah hati. Ancol menjadi saksi — kembang api,bekal dari rumah, taplak meja plastik besar yang multifungsi: alas duduk sekaligus pelindung kepala saat hujan.

Tahun 1990, keluarga beribadah akhir tahun di gereja. Makan malam bersama, lalu ibadah menyongsong tahun baru di rumah. Petasan bertalu-talu seperti perang. Tak lama kemudian anak-anak pamit — mereka mulai punya dunia dan rencana sendiri bersama teman-temannya.

Dan tahun 2025, saat kami berdua mulai uzur. Ibadah di gereja hanya daku dan suami. Anak-anak telah berkeluarga, menyambut tahun baru dengan acara dan keluarga kecil mereka masing-masing.

Ketidakadilan yang Terasa Sah

Menjelang tahun 2026, suami tertidur kelelahan. Aku terjaga, menanti pergantian tahun. Ada sedih yang tak bisa dipungkiri, rasa sepi yang datang perlahan, air mata jatuh tanpa bisa ditahan. “Mengapa sekarang aku sendirian?” Namun tidak. Tuhan Yesus hadir. Ia menemani aku menyambut tahun 2026 — tahun rahmat Tuhan.

Inilah sekilas pandang dan curahan hati Loes Palar. Narasi cinta yang lahir dari ingatan panjang, yang tidak semua lanjut usia mampu menelusurinya kembali. Sebuah kesaksian tentang waktu, keluarga, kesetiaan, dan Tuhan yang tetap setia hingga ujung usia. LPR / JP

Related Posts

Latest Posts

Berita Populer

01

Pdt. Nitis Harsono: “Tenang, Iblis Bermain Senang”

02

Tuli Mendadak, Tradisi Sejak Dini di Jabatan Fungsionaris

03

Ketok Magic Pendeta, Menggunakan Ayat Kolusi dan Ayat Nepotisme

04

Polling Aspirasi, Membentuk Demokratisasi di GPIB

05

Sang Raja, Sang Ratu di Jemaat

Ragam Berita





Sang Raja, Sang Ratu di Jemaat