Opini
Home / Opini / Menutup Buku Lama, Membuka Lembaran Baru dalam Terang Kasih

Menutup Buku Lama, Membuka Lembaran Baru dalam Terang Kasih

Gereja tidak akan bertumbuh bila ego diutamakan—ego yang dominan, yang tiba-tiba menjadi tuli terhadap masukan, merasa kelompoknya paling benar, paling hebat, dan paling pintar….

Jakarta, gpibwatch.id — Banyak hal yang harus kita gumuli bersama—dipikirkan bersama, didoakan bersama, dan dicarikan jalan keluarnya bersama—terutama berbagai persoalan yang hingga kini belum menemukan titik temu. Semua itu perlu diselesaikan dalam Nama Tuhan Yesus, agar setiap solusi yang lahir dipenuhi kuasa hikmat dan kebijaksanaan, bukan semangat saling menyalahkan atau mencari siapa yang paling benar.

Kita semua memiliki kekurangan dan kelebihan. Karena itu, setiap pribadi dipanggil untuk berani mengoreksi diri, bukan sibuk mencari kambing hitam atau saling menunjuk kesalahan. Roh pelayanan tidak akan pernah bertumbuh di atas ego, melainkan di atas kerendahan hati.

Pertanggungjawaban pelayanan yang belum terselesaikan dalam Persidangan Sinode Raya GPIB di Makassar Tahun 2025 kiranya dapat dituntaskan dalam Persidangan Sinode Tahunan (PST) Tahun 2026. Dengan demikian, kita dapat menutup buku ini dalam terang, damai, dan kasih Tuhan—tanpa beban yang diwariskan ke masa depan.

Para Fungsionaris Majelis Sinode GPIB XXII diharapkan dapat membuka lembaran baru melalui karya dan kapasitas pelayanannya. Setiap periode kepemimpinan lima tahunan tentu memiliki mekanisme dan tata kelola yang berbeda, namun semuanya tetap berada dalam satu kerangka yang sama: landasan teologi, misiologi, dan eklesiologi GPIB.

PST Jakarta Harus Tegas, Kasus Keuangan FMS XXI Harus Ada Sanksi

Gereja tidak akan bertumbuh bila ego diutamakan—ego yang dominan, yang tiba-tiba menjadi tuli terhadap masukan, merasa kelompoknya paling benar, paling hebat, dan paling pintar. Sebaliknya, gereja akan bertumbuh ketika bersedia duduk bersama, berdoa, bermusyawarah, dan sungguh-sungguh hadir di tengah masyarakat.

Inilah makna sejati Persidangan Sinode Tahunan GPIB 2026: sebuah forum penting untuk mengevaluasi seluruh karya layanan gereja, menetapkan arah ke depan, serta menjawab tantangan zaman dengan iman dan tanggung jawab. “Ungkap Pdt. Nitis Putrasana Harsono, M.Th.”

Persidangan Sinode Tahunan GPIB yang diselenggarakan di Hotel Menara Peninsula, Jakarta, pada tanggal 11–14 Februari 2026, mengajak kita untuk saling mendukung dan saling peduli. Kita menyadari bersama bahwa kondisi ekonomi saat ini tidak sedang baik-baik saja, dan situasi tersebut juga berdampak pada GPIB yang tengah menghadapi defisit anggaran.

Kondisi ini tidak mungkin ditanggulangi oleh sekelompok orang saja. Diperlukan sinergi seluruh unsur gereja. Tidak perlu lagi menoleh ke belakang untuk mencari siapa yang salah atau siapa yang keliru mengelola. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk bangkit bersama, berjalan bersama, dalam koridor GPIB yang sejak awal menjunjung tinggi pengambilan keputusan secara kolektif-kolegial.

Kiranya Persidangan Sinode Tahunan GPIB Tahun 2026 melahirkan buah segar—buah manis—yang menghasilkan keputusan bermakna dan bermanfaat, yang dapat dijalankan dengan kesehatian, demi memuliakan Tuhan. Sebagai jemaat, kita menyimpan harapan besar agar persidangan-persidangan sinode ke depan dapat dilaksanakan dengan semangat ugahari, penuh tanggung jawab, dan setia pada panggilan gereja. ewako-mappakoe@gpibwatch.id / JP

“Angin Surga” vs Angin Kebenaran

Related Posts

Berita Populer

01

Pdt. Nitis Harsono: “Tenang, Iblis Bermain Senang”

02

Tuli Mendadak, Tradisi Sejak Dini di Jabatan Fungsionaris

03

Ketok Magic Pendeta, Menggunakan Ayat Kolusi dan Ayat Nepotisme

04

Polling Aspirasi, Membentuk Demokratisasi di GPIB

05

Sang Raja, Sang Ratu di Jemaat

Ragam Berita





Sang Raja, Sang Ratu di Jemaat