Opini
Home / Opini / Mengalir dalam Panggilan Pelayanan “Refleksi Seorang Presbiter GPIB”

Mengalir dalam Panggilan Pelayanan “Refleksi Seorang Presbiter GPIB”

Fungsionaris Majelis Sinode GPIB sebaiknya fokus pada tugas-tugas strategis, sementara hal-hal teknis didelegasikan ke unit misioner dan jemaat, agar energi tidak habis pada urusan operasional…

Jakarta, gpibwatch.id – Saya tidak pernah berniat mengejar jabatan dalam pelayanan. Sejak awal, saya hanya berusaha menjalani setiap tugas dengan sebaik-baiknya — di jemaat, mupel, maupun sinodal.

Saat menjawab, “Ya, dengan segenap hatiku” dalam peneguhan Presbiter di GPIB Kinasih, Ciputat–Banten, saya memahami kalimat itu sebagai komitmen untuk bersedia ditugaskan dalam apa pun bentuk pelayanan.

Perjalanan pelayanan saya pun mengalir. Saya dipercaya menjadi Koordinator Sektor Pelayanan, lalu Ketua IV PHMJ GPIB Kinasih, kemudian Ketua IV BP Mupel Banten, hingga Koordinator Pengembangan Ekonomi Warga Jemaat di Departemen PEG Majelis Sinode.

Dalam semua tanggung jawab itu, saya hanya berusaha melayani dengan hati, sembari tetap menjalankan profesi saya di dunia kerja — sebagai pengelola investasi di ABC Grup dan mentor lembaga edukasi keuangan dan investasi.

Banyak hal baik yang sudah dilakukan oleh Fungsionaris Majelis Sinode (FMS) saat ini. Tugas ke depan adalah melanjutkan yang sudah baik dan memperbaiki yang masih kurang, demi kemajuan dan kesaksian GPIB.

Antara Politik dan Missio Dei

FMS tidak perlu memiliki visi dan misi sendiri. Gereja sudah memiliki visi dan misi, juga PKUPPG dan PKA, serta keputusan-keputusan PSR dan PST yang harus dijalankan. Semuanya harus dikerjakan secara kolektif kolegial, bersama unit-unit misioner dan jemaat-jemaat.

FMS sebaiknya fokus pada tugas-tugas strategis, sementara hal-hal teknis didelegasikan ke unit misioner dan jemaat, agar energi tidak habis pada urusan operasional.

Jika ditanya apa yang akan saya kerjakan — tentu dalam koridor keputusan PSR dan PST — beberapa hal berikut menjadi perhatian saya:

  1. Menekan defisit anggaran dengan efisiensi, penghematan, dan mencari sumber pendapatan baru.
  2. Mengelola keuangan secara cermat dan bertanggung jawab — tidak besar pasak daripada tiang.
  3. Memanfaatkan aset GPIB secara produktif agar menjadi sumber pendapatan berkelanjutan.
  4. Mendorong ekonomi warga jemaat melalui pengembangan UMKM dan platform digital.
  5. Menyelesaikan kewajiban dana pensiun pendeta sekitar Rp20 miliar dengan solusi berkelanjutan.
  6. Membangun komunikasi terbuka di seluruh jemaat, agar kepercayaan dan partisipasi meningkat.
  7. Menggagas Dana Abadi GPIB, yang hasil investasinya bisa mendanai kegiatan sinodal tahunan.
  8. Meningkatkan kesejahteraan pendeta dan pegawai melalui penyesuaian gaji dan tunjangan.
  9. Memperbaiki pengelolaan Dana Pensiun, agar manfaat bagi pendeta emeritus dan pegawai lebih besar.

Fokus saya memang di bidang PEG dan keuangan, sejalan dengan pengalaman saya di jemaat, mupel, hingga sinodal. Namun saya percaya, ini bukan sekadar soal pemilihan atau suksesi kepemimpinan. Ini adalah tanggung jawab bersama seluruh presbiter GPIB — Pendeta, Penatua, dan Diaken — untuk menegakkan pelayanan dan kesaksian gereja.

Terpilih atau tidak, saya akan tetap melayani. Sebab bagi saya, pelayanan bukan jabatan — melainkan panggilan iman. Soli Deo Gloria. Pnt.Steven Tunas, Kandidat Ketua IV MS.GPIB – XXII.

PST Jakarta, Peserta via Zoom Keluhkan Sulitnya Akses Masuk

Related Posts

Berita Populer

01

Pdt. Nitis Harsono: “Tenang, Iblis Bermain Senang”

02

Tuli Mendadak, Tradisi Sejak Dini di Jabatan Fungsionaris

03

Ketok Magic Pendeta, Menggunakan Ayat Kolusi dan Ayat Nepotisme

04

Polling Aspirasi, Membentuk Demokratisasi di GPIB

05

Sang Raja, Sang Ratu di Jemaat

Ragam Berita





Sang Raja, Sang Ratu di Jemaat